Rabu, 22 Oktober 2014

News / Regional

Pertanian

Tasikmalaya, Lumbung Pangan Organik

Rabu, 5 Januari 2011 | 15:26 WIB

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Tingginya kesadaran petani di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat terhadap kelestarian lingkungan melalui pertanian organik menjadi modal utama pemerintah setempat untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai lumbung pangan organik.

"Lumbung beras boleh ada di Karawang atau Indramayu tapi lumbung pangan organik ya Tasikmalaya," ujar Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dians Pertanian Kabupaten Tasikmalaya Soni Prayatna, Rabu (5/1/2011).

Pernyataan Soni itu bukan isapan jempol belaka. Sebab, saat ini sudah terdapat 320 hektar sawah petani yang mengantungi sertifikat organik dan perdagangan berkeadilan dari lembaga sertifikasi internasiona The Institute for Marketology atau IMO yang berbasis di Swiss.

Sawah tersebut telah dikelola secara organik selama lebih dari lima tahun. Selain itu, ada 50 hektar sawah yang sedang menjalani proses sertifikasi organik dari Badan Standar Nasional Indonesia atau BSNI. Sawah ini dikelola secara organik tidak lebih dari tiga tahun.

Sawah-sawah tersebut, kata Soni, belum termasuk sawah yang dikelola secara organik tapi belum mendapat sertifikat organik. Bahkan, sejak tahun 2009 petani Kabupaten Tasikmalaya yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Simpatik telah berhasil mengekspor beras organik ke sejumlah negara sepert Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan Uni Emirat Arab.

Ke depan, Soni sangat berharap sawah yang dikelola secara organik terus meluas hingga seluruh sawah yang ada sekitar 50000 hektar. Dengan demikian, kelestarian ekosistem sawah terjaga, produktivitas meningkat, penghasilan petani bertambah, dan masyarakat mendapat sumber pangan yang sehat.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Henry Nugroho, menambahkan, selain padi pemerintah daerah pun sedang menerapkan pertanian organik pada hortikultura. "Dalam dua tahun terakhir kami menanam cabai dan manggis organik. Memang luas lahannya masih sedikit tapi diharapkan dari tahun ke tahun terus bertambah," kata Henry.


Editor : Glori K. Wadrianto