Jumat, 18 April 2014

News / Nasional

Foto Sultan-Soekarno Dipublikasikan

Selasa, 4 Januari 2011 | 16:02 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Foto antara Sultan Hamengku Buwono IX dan Presiden RI pertama Soekarno dipublikasikan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada. Foto yang jarang dipublikasikan ini dinilai penting karena menunjukkan keeratan kedua tokoh bangsa ini dalam periode awal Republik Indonesia.

Foto ini ditunjukkan oleh Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Suhartono Wiryopranoto, Selasa (4/1/2011), dalam kuliah umum Republik Yogya yang diselenggarakan untuk memperingati periode perpindahan pusat pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta, 4 Januari 1946-28 Desember 1949.

Foto berjudul "Empat Mata" ini menggambarkan Sultan Hamengku Buwono (HB) IX dan Presiden Soekarno yang tengah terlibat diskusi serius. "Foto ini sangat jarang dipublikasikan dan tidak saya temukan di buku-buku sejarah. Padahal, menurut saya, foto ini sangat penting maknanya. Adegan itu menggambarkan eratnya komunikasi Sultan HB IX dan Soekarno di awal-awal kemerdekaan Indonesia," kata Suhartono.

Suhartono menuturkan belum mengetahui siapa pengambil foto tersebut. Foto ditemukan tergeletak dalam tumpukan arsip di Keraton Kilen Yogyakarta sekitar tahun 2001. Dari latar belakangnya, pembicaraan serius kedua tokoh bangsa tersebut terjadi di salah satu bagian Keraton Yogyakarta sekitar periode perpindahan pusat pemerintahan ke Yogyakarta antara 1948 dan 1949.

Selain foto itu, Suhartono juga menunjukkan foto antara Sultan HB IX dan Sutan Syahrir. Dalam foto ini, keduanya tampak berbincang dalam suasana santai dan akrab. "Foto-foto ini menunjukkan bahwa Sultan HB IX merupakan salah satu tokoh kunci perjuangan berdirinya Republik Indonesia," ucapnya.

Periode Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI itu berlangsung pada 4 Januari 1946-28 Desember 1949. Selama periode ini, 2.718 warga Yogyakarta tewas, 539 orang hilang, dan 736 orang terluka karena turut berjuang melawan Belanda. Hal ini menjadi salah satu bukti besarnya pengorbanan warga Yogyakarta untuk berdirinya Indonesia.

Mantan Ketua Senat Akademik UGM Prof Sutaryo mengatakan, peringatan Republik Yogya di UGM dimaksudkan untuk menggelorakan kembali semangat persatuan dan saling menghargai antara Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Indonesia waktu itu. Nilai-nilai luhur kebersamaan, persatuan, dan saling menghargai antara Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Indonesia itu perlu terus disampaikan kepada generasi muda saat ini. Persatuan dan saling menghargai itu membuat Indonesia mampu menghadapi berbagai permasalahan saat itu.

Terkait hal itu, sejarawan UGM Arief Akhyat mengatakan, hubungan Keraton Yogyakarta dengan RI telah berlangsung sangat lama dalam sejarah. Namun, saat ini hubungan tersebut dipandang secara kontemporer dan cenderung ahistoris atau mengabaikan sejarah. 

 

 


Editor : A. Wisnubrata