Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 02:31 WIB
Bantul
Petani Tak Nikmati Kenaikan Harga Cabai
Eny Prihtiyani | Marcus Suprihadi | Kamis, 30 Desember 2010 | 21:21 WIB
|
Share:
KOMPAS/MADINA NUSRAT Ilustrasi petani cabai

BANTUL, KOMPAS.com- Dampak melambungnya harga cabai hingga menembus Rp 75.000, ternyata tak dirasakan para petani cabai di Bantul. Hasil panen mereka merosot akibat serangan jamur. Harga jual di tingkat petani juga rendah, sekitar setengah dari harga jual pasar.  

Giman (42), petani di Bulak Unam-unam Srigading, Sanden, Bantul , Kamis (30/12/2010), mengatakan, akibat serangan jamur kali ini, hasil panennya turun hingga 75 persen. Biasanya ia bisa memanen 10 kuintal cabai di lahan seluas 3.000 meter persegi. Kini, ia baru bisa panen 2,5 kuintal saja.   

Untuk menyelamatkan tanamannya, Giman harus mengeluarkan biaya tambahan membeli pestisida. "Kalau tidak disemprot, serangannya terus mengganas. Saya sampai menyemprot berkali-kali," katanya.    

Jamur juga memicu penyakit keket pada cabai. Penyakit keket mulai menyerang cabai yang siap panen. Awalnya hanya menyerang ujung cabai. Lama kelamaan cabai mengering dan rontok. Penyebab keket atau patek ini adalah jamur coletotricum.

Suherman (50), petani lainnya, mengatakan, harga jual cabai di tingkat petani juga tidak setinggi harga di pasar. Harga jual cabai rawit berkisar Rp 35.000 per kg, sementara cabai keriting sekitar Rp 30.000 per kg. "Kami heran kenapa di pasar harganya bisa naik dua kali lipat. Kemungkinan ada permainan di tingkat tengkulak," katanya.