Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Kerajinan

Industri Batik Jambi Kian Menyusut

Kamis, 30 Desember 2010 | 16:44 WIB

JAMBI, KOMPAS.com- Industri batik Jambi semakin menyusut dalam lima tahun terakhir. Sebagian besar produk batik bermotif khas Jambi yang beredar di pasaran lebih banyak dipasok dari wilayah Jawa.

Dosen Program Magister Ekonomika Pembangunan Pascasarjana Universitas Jambi, Profesor M. Rahmat mengatakan, bisnis pemasaran batik Jambi semakin marak, namun kondisi itu tidak seiring dengan bertambahnya jumlah unit usaha kerajinan tersebut. "Jumlah UKM batik justru semakin berkurang," tuturnya, Kamis (30/12/2010).

Pada sentra kerajinan batik di wilayah Seberang Kota Jambi hanya sekitar 30 persen perajin yang masih aktif. Sisanya gulung tikar.

Menurut Rahmat, biaya produksi dan tenaga kerja di Jambi cenderung lebih tinggi, sehingga mendorong banyak pengusaha memesan produk batik ke Yogyakarta, Pekalongan, dan Bandung. Para pengusaha ini cukup memberikan contoh motif dan bahan yang diinginkan kepada perajin di Jawa untuk memperoleh produk batik bermotif khas Jambi dengan harga yang lebih murah.

Harga batik buatan perajin lokal bisa mencapai Rp 400.000, tapi batik bermotif Jambi yang dibikin di Jawa bisa mereka jual dengan harga Rp 300.000. "Itu pun pedagangnya sudah mendapatkan selisih keuntungan," ujarnya.

Rahmat melanjutkan, kreasi batik perajin Jambi juga masih kurang. Karena itu, lanjutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan untuk mengangkat sektor industri batik di Jambi. Tidak hanya bantuan pembiayaan, pemerintah perlu memberi pendampingan teknis melalui tenaga penyuluh.

Perajin batik dari Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk , Kota Jambi, Atika, mengatakan, dalam lima tahun terakhir banyak perajin yang tidak lagi beroperasi, walaupun perdagangan produk ini terus meningkat. Penyebabnya adalah produk buatan perajin setempat sulit bersaing dengan batik buatan Jawa. Harga batik buatan perajin Jambi lebih mahal dan motifnya dinilai kurang menarik.

Hal itu disebabkan bahan baku masih didatangkan dari Jawa, dan ongkos pekerja lebih mahal. Ongkos buruh bahkan bisa tiga kali lipat dari ongkos buruh di Jawa. "Ada buruh yang harus kami bayar Rp 50.000 per hari," ujarnya.

Menurutnya, jumlah perajin di wilayah Seberang Kota Jambi telah jauh berkurang. Dari sebelumnya sekitar 40 orang, kini hanya sekitar 10 orang. Atika sendiri mengaku sudah lima tahun tidak lagi beroperasi. Ia memilih menjadi pegawai di salah satu bank swasta.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi tahun 2009, jumlah perajin batik mencapai 224 orang, dengan jumlah unit usaha 49 unit. Para perajin ini tersebar di Kota Jambi 129 orang, Batanghari 52 orang, Sarolangun 15 orang. Sedangkan di Kabupaten Merangin ada 10 orang, Tebo 4 orang, dan Bungo 14 orang.

Secara keseluruhan, nilai investasi industri batik di Jambi mencapai Rp 588 miliar. Kapasitas produksi mencapai 92.773 meter kubik per tahun.


Editor : Marcus Suprihadi