Jumat, 31 Oktober 2014

News /

GUNUNG BROMO

Said dan Kearifan Masyarakat Tengger

Jumat, 3 Desember 2010 | 05:01 WIB

Aloysius B Kurniawan

Keberuntungan masih berpihak pada Said (70), petani di lereng Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Beberapa petak tanaman koro dan kubis di bukit sebelah mengering akibat tersapu abu belerang Gunung Bromo, tetapi milik Said masih tetap menghijau.

Dua hari sudah kepulan asap Gunung Bromo berpindah arah dari barat daya menuju utara dan timur laut. Desa Ngadisari di sebelah timur laut Gunung Bromo yang awalnya tak terkena hujan abu akhirnya turut terimbas.

Meski tipis, hujan abu yang bercampur belerang menjadi ancaman bagi masyarakat Tengger, khususnya para petani. Dalam dua hari ini, warna asap Bromo memang berubah dari abu-abu kehitam-hitaman menjadi cokelat kemerah-merahan karena mengandung sulfur atau belerang.

Bagi masyarakat Tengger, hujan abu bercampur belerang menjadi momok. Hanya dalam satu hingga dua hari, tanaman sayur yang terkena belerang langsung layu dan mengering.

Namun, situasi ini sama sekali tak membuat Said khawatir. Ia begitu yakin bahwa keberhasilan dan kegagalan panen ditentukan oleh Hyang Kuasa.

”Sama seperti hari-hari kemarin, kami tetap saja bercocok tanam. Masalah gagal dan berhasil yang menentukan ya Yang di atas sana,” ucap Said sembari mencangkul ladang miliknya.

Musim ini Said bersama Iyem, istrinya, menanam bawang dan kubis. Bibit kubis yang baru mereka tanam dua hari lalu masih terlihat layu, tetapi masih terselamatkan dari hujan abu bercampur belerang. Yang mengagumkan, sama sekali tak tersirat kegundahan di wajah Said jika sewaktu-waktu belerang menyerang tanamannya.

”Waktu saya masih kecil, saya pernah mengalami letusan Gunung Bromo yang lebih besar dari sekarang ini. Letusan Bromo tampak seperti kembang api, tetapi lontarannya tak pernah sampai ke kampung kami. Kalau Bromo sedang punya gawe, ya kami tak mendekat. Itu saja,” ucap Said.

Kearifan lokal

Kearifan lokal masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo memang luar biasa. Mereka percaya di Gunung Bromo bersemayam Raden Kusuma, putra pasangan Joko Seger dan Rara Anteng, yang merupakan leluhur masyarakat Tengger. Karena itu, Gunung Bromo adalah bagian dari legenda masyarakat Tengger yang tak bisa dipisahkan.

Dalam sejarah Kasada atau cerita awal mula leluhur masyarakat Tengger dikisahkan, setelah menikah, Joko Seger dan Rara Anteng tak kunjung dikaruniai anak. Joko Seger kemudian bersemadi dan mohon petunjuk Sang Hyang Widi Wasa. Berdasarkan petunjuk gaib, pasangan itu dikaruniai 25 anak.

Namun, ada satu syarat. Salah satu anak Joko Seger dan Rara Anteng suatu saat akan diambil dewa. Raden Kusuma, putra bungsu pasangan Joko Seger dan Rara Anteng, akhirnya diambil lewat jilatan api saat Gunung Bromo meletus. Itulah yang mengawali tradisi labuh sesaji ke kawah Bromo saat perayaan Kasada.

Karena itu, tak mengherankan jika masyarakat Tengger terlihat ”akrab” dengan fenomena alam Gunung Bromo yang telah menjadi bagian hidup mereka sejak dahulu kala.

Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin sendiri kagum dengan religiusitas serta ketaatan masyarakat Tengger pada para pemangku serta para dukun setempat.

”Di saat status Gunung Bromo Awas, masyarakat di sekitar sangat mudah diajak koordinasi. Begitu para tokoh setempat menginstruksikan perintah, semua masyarakat langsung menaati,” tuturnya.

Kepala Perkumpulan Dukun Sekawasan Tengger Mujono mengatakan, Gunung Bromo telah menjadi bagian masyarakat Tengger yang tak terpisahkan. Namun, dalam kondisi darurat, masyarakat tetap akan mematuhi instruksi pemerintah demi keamanan dan keselamatan bersama.

Karena itu, Said yang menjadi bagian dari masyarakat Tengger tak pernah khawatir dengan ancaman Bromo.

Baginya, Bromo telah memberi kesuburan bagi ladangnya selama bertahun-tahun. Jika suatu kali tanamannya harus kering akibat belerang, hal itu tak sebanding dengan kesuburan tanah dan rezeki yang ia terima bertahun-tahun.

 


Editor :