Sabtu, 20 Desember 2014

News / Regional

Merapi

Kawah Berdiameter 400 Meter Terbentuk?

Sabtu, 6 November 2010 | 13:13 WIB

Terkait

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Badan Geologi memperkirakan, kawah dengan diameter 400 meter telah terbentuk di puncak Gunung Merapi pascaletusan besar pada 4 November.

"Pascaletusan 26 Oktober, telah terbentuk kawah 200 meter di puncak gunung. Tetapi karena letusan awal November itu diperkirakan 10 kali lebih besar dibanding 26 Oktober lalu, kawah yang terbentuk juga diperkirakan lebih besar hingga dua kali lipat," kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Walau demikian, lanjut dia, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti luas kawah dan morfologi puncak Gunung Merapi karena puncak gunung tersebut masih terus tertutup kabut sehingga menghambat pemantauan secara visual.

Ia mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK.

"Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap awas dan daerah terdampak juga masih tetap sama, yaitu radius 20 kilometer (km)," katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Oleh karena itu, ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas, tetapi juga banjir lahar, apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

"Masyarakat tetap diimbau untuk menjauhi bantaran sungai karena dinding bantaran sungai itu bisa tergerus atau jika tidak memiliki kepentingan, jangan terlalu lama beraktivitas di jembatan," katanya.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Saat ini, BPPTK masih mengusahakan untuk menambah alat pemantauan di tiga titik menggantikan tiga seismometer yang rusak karena terkena letusan Gunung Merapi.

Walau demikian, ia mengatakan, pengamatan dan kemampuan analisis perkembangan aktivitas gunung tidak terganggu meskipun alat rusak karena masih tersisa satu seismometer di Plawangan.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: