Minggu, 26 Oktober 2014

News / Regional

Terawang

Enam Tahun ke Depan Merapi Aman...

Jumat, 5 November 2010 | 19:34 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Ini memang hanya perkiraan, perasaan, feeling, firasat, penglihatan supranatural atau apa pun namanya. Dan yang namanya ramalan memang bisa terjadi, bisa pula tidak, atau mendekati kebenaran. Karena itu, silakan saja Anda percaya atau tidak.

Seorang rohaniwan asal Belanda yang sudah sudah 28 tahun berkecimpung di dunia pengobatan komplementer, Yanuar Husada, sempat mengirimkan pesan singkat ke sejumlah orang di sekitaran Merapi. Isinya, memberi peringatan bahwa letusan dahsyat Merapi terjadi antara tanggal 4 dan 5 November 2010.

SMS itu, katanya, dikirimkan untuk memberi peringatan dini agar masyarakat sekitar Merapi menghindar dari kemungkinan terburuk. Dan faktanya, tanggal 4 dan 5 memang terjadi letusan sangat besar yang sampai petang ini sudah menewaskan 64 orang dan melukai puluhan lainnya.

"Saya pikir, kalau semua ini tidak benar, risikonya saya malu, tapi saya merasa harus menyampaikan ini," ucap Yan dalam percakapan dengan Bangka Pos, Selasa (2/11/2010) atau dua hari sebelum letusan besar 4 November, menjelang tengah malam.

Untuk menyampaikan pesannya, Yan (72) yang selama ini tidak pernah mau diwawancarai wartawan itu, bahkan menghubungi Bangka Pos. Suatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

Menurut feeling atau penglihatannya, semburan Merapi antara tanggal 4 dan 5 November itu mengarah ke empat penjuru. Daya jangkau semburannya masing-masing 11 km, 13 km, 12 km, dan 20 km. Apakah semua itu sudah terjadi sampai petang ini? atau masih akan terjadi di sisa waktu sampai pukul 24.00 nanti? Entahlah....

Yang jelas, sampai saat ini suasana di lereng Merapi masih mencekam. Seorang warga lereng Merapi di Muntilan menginformasikan bahwa kaca-kaca jendela rumah terus bergetar, sementara suara gemuruh Merapi masih terus terdengar sejak Kamis sore lalu.

Menggembirakan

Yang namanya bencana pasti ada akhirnya. Inilah salah satu penerawangan Yan yang menggembirakan. Menurut dia, setelah tanggal 5 ini, Merapi tidak akan berulah lagi. Setidaknya sampai lima tahun delapan bulan ke depan atau dalam hitungan Kompas.com kira-kira sampai Juni 2016.

Seperti kebiasannya, setiap kali menerima pasien yang datang kepadanya, Yan memang selalu membawa kertas putih yang kemudian dicoret-coret dengan angka-angka. Begitu pun ketika dia menerima Bangka Pos.

Dia membawa secarik kertas yang sudah penuh dengan coretan angka-angka. Di antara deretan angka 4 dan 5 memang terdapat sebuah garis vertikal yang tebal dan agak tinggi. Garis-garis vertikal itu hampir tidak ada pada angka-angka yang lain. Bahkan, setelah angka lima malah tertulis "tenang".

Dia kemudian menjelaskan bahwa gejolak Merapi paling dahsyat terjadi antara tanggal 4 dan 5 November 2010. Setelah itu, Merapi tak akan bergolak dan semuanya kembali tenang sampai enam tahun ke depan.

Meski begitu, dia menambahkan masih ada kemungkinan letusan sekali lagi pada hari Sabtu besok, meskipun itu tidak sebesar letusan 4 dan 5 November.

Yang juga menggembirakan, menurut penglihatannya, muntahan magma Merapi itu juga akan membuat tenang semua gunung-gunung berapi lain, khususnya Anak Krakatau dan Semeru.

Anak Krakatau yang sekarang bereaksi, awan panas di Semeru, dan beberapa rangkaian lainnya, kata Yan, adalah akibat tekanan dari perut bumi. Ketika tekanan itu sudah dimuntahkan Merapi, sebagian beban di dalam sudah tersembur keluar sehingga gejolak dari perut bumi relatif tenang untuk waktu lima tahun delapan bulan ke depan.

Sekali lagi, apa yang disampaikan Yan itu hanyalah ramalan, firasat, feeling, penglihatan supranatural, atau apa pun itu namanya. Jadi, bukan sesuatu yang ilmiah yang bisa dihitung secara pasti sehingga, tetap saja, harus dibuka kemungkinan bahwa ramalan itu bisa saja terjadi, tetapi juga tidak. (Bangka Pos/Fennie Yadi)


Editor : Marcus Suprihadi
Sumber: