BANGKALAN, KOMPAS.com — Sedikitnya 10 pelajar SMAN 3 Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Kamis (28/10/2010), mengalami kesurupan saat mengikuti latihan dasar kepemimpinan di salah satu ruang kelas sekolah tersebut.
Mereka berteriak histeris ketika salah seorang temannya mencoba membawa ke ruang unit kesehatan sekolah (UKS).
Bahkan, saat kamera wartawan berusaha mengambil gambar dilempar dengan sepatu oleh siswi yang kesurupan.
Kini, para korban kesurupan yang sebagian besar adalah perempuan ini masih berada di ruang UKS SMAN 3 Bangkalan untuk diobati.
Salah seorang guru agama tampak membacakan ayat-ayat suci Al Quran terhadap siswi yang kesurupan.
Kepala Sekolah SMAN 3 Bangkalan Harkan mengatakan, pihaknya memprediksi kasus kesurupan tersebut diduga akibat dari niat sekolah yang ingin melakukan shalat dzuhur berjemaah bagi siswa.
"Rencananya shalat dzuhur berjemaah itu digelar pada tanggal 1 November mendatang. Hal itu dilakukan untuk memperkuat iman para siswa yang ada di sini. Namun, sebelum rencana ini direalisasikan, sekitar 10 murid mengalami kesurupan," terang Harkan.
Menurut dia, dengan adanya kasus ini, pihaknya menilai mungkin hal tersebut merupakan reaksi dari para "penghuni" SMAN 3 Bangkalan. Sebab, mereka merasa terganggu terhadap niat baik sekolah.
"Meski begitu, kami tetap akan menggelar shalat dzuhur berjemaah di sekolah karena ini merupakan sebuah komitmen bagi kami," ucapnya.
Harkan menjelaskan, peristiwa kesurupan yang menimpa anak didiknya bukan disebabkan karena materi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang berat.
Pasalnya, materi LDK yang diberikan terhadap anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) tersebut merupakan ilmu kepemimpinan dasar.
"Memang selama seminggu terakhir, mereka yang kesurupan sedang mengikuti kegiatan LDK. Tapi, saya rasa bukan itu penyebab utama dari terjadinya kesurupan. Mereka yang mengalami kesurupan kelas X dan XI," ujarnya.
Harkan menambahkan, sebelumnya pihak sekolah juga melakukan penebangan pada beberapa pohon besar yang ada di halaman sekolah. Hal tersebut dilakukan untuk mempercantik suasana sekolah dari kesan angker.
"Kasus kesurupan di sini seakan sebuah tradisi. Sebab, sebelumnya saat pergantian kepala sekolah baru ada siswi yang kesurupan. Nah, sekarang saya baru menjadi kepala sekolah di sini, ada kasus kesurupan," urainya.

