Kamis, 27 November 2014

News / Regional

Gempa 7,2 SR

Tsunami 2 Meter Terjang Mentawai

Selasa, 26 Oktober 2010 | 12:41 WIB

Terkait

PADANG, KOMPAS.com — Pakar gempa dari Universitas Andalas, Dr Badrul Mustapa Kemal, mengatakan, gempa berkekuatan 7,2 skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat, Senin (25/10/2010) pada pukul 21.42 WIB mengakibatkan tsunami setinggi dua meter di Pulau Mentawai.

"Tsunami setinggi dua meter yang terjadi itu antara lain ditandai dengan ada perahu nelayan yang tersangkut di darat. Informasi tersebut berasal dari pemantau relawan Australia, Cunterpart (mitra) Sucopindo," kata Badrul Mustapa di Padang, Selasa (26/10/2010).

Ia mengatakan hal itu terkait gempa tektonik yang mengguncang pesisir pantai barat Sumatera Barat (Sumbar) yang terjadi sekitar pukul 21.42 WIB.  Berdasarkan data situs BMKG, gempa itu pada awalnya dinyatakan berpotensi tsunami. Namun, sekitar 25 menit kemudian, mereka merilis kabar bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Gempa berpusat pada 3,61 Lintang Selatan-99,93 Bujur Timur pada pusat 78 km barat daya Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumbar; 174 km Barat Daya Mukomuko-Bengkulu; dan 817 km Barat Laut Jakarta.

Badrul menjelaskan, posisi blok dari gempa yang terjadi pada Senin malam itu sama dengan gempa yang terjadi pada 12 September 2007, yakni di Pagai, Kepulauan Mentawai, dengan guncangan 8,4 SR. "Berkemungkinan gempa 7,2 SR pada Senin malam itu adalah energi gempa yang tersisa pada gempa 12 September 2007," katanya.

Badrul membagi posisi gempa di Sumbar yang telah terjadi pada dua blok atau terdapat dua tempat gempa besar di Sumbar, yakni di sekitar Pulau Siberut dan Pulau Pagai. Gempa pada 30 September 2010 berlokasi di Pulau Siberut, sedangkan 25 Oktober 2010 (dan 12 September 2007) pada blok Pulau Pagai.

Badrul menambahkan, gempa di Sumbar menurut prediksi pakar dari LIPI akan terjadi lagi. Namun, potensi tsunami tidak bisa diprediksi. Hal itu tetap tergantung letak lokasi. "Katakan saja energi gempa itu masih ada dan terjadi di Pulau Siberut. Tidak ada tsunami, tetapi Siberut-nya hancur," katanya.


Editor : Tri Wahono
Sumber: