Selasa, 30 September 2014

News /

BENCANA ALAM

Gempa Yogyakarta, Warga Panik dan Trauma

Selasa, 14 September 2010 | 03:31 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS - Warga di pelosok pedesaan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, panik akibat guncangan gempa berkekuatan 5 skala Richter pada kedalaman 10 kilometer, sekitar 23 km tenggara Bantul, Minggu tengah malam. Meskipun tidak ada kerusakan, warga dan nelayan di tepi pantai Selatan Gunung Kidul mengkhawatirkan adanya tsunami. Banyak wisatawan dan pedagang menginap di tepi pantai saat libur Lebaran.

Nelayan Pantai Baron, Sugi, mengatakan, warga dan pedagang lari menjauhi pantai begitu gempa mengguncang bangunan permanen ataupun semipermanen di tepi pantai. Tim Search and Rescue Gunung Kidul segera mengumumkan gempa melalui pengeras suara dan meminta masyarakat mewaspadai tsunami. ”Pantai sedang ramai pengunjung yang menginap ketika gempa terjadi,” kata Sugi, Senin (13/9).

Ketika gempa mengguncang, atap warung di tepi pantai saling bergesekan dan mengeluarkan bunyi kencang. Daniel, warga yang sedang menginap di Pantai Sadeng, mengaku tubuhnya seperti diayun-ayun. ”Kami sudah pengalaman dengan gempa sehingga langsung berhamburan ke luar rumah ketika terjadi guncangan,” ujar Daniel.

Gempa dirasakan hampir semua warga di Gunung Kidul. Guncangan terasa paling keras terutama di perbatasan Gunung Kidul dengan Bantul. Seluruh warga di Dusun Mojosari, Playen, juga berhamburan ke luar rumah sambil membunyikan kentungan dengan nada titir (terus-menerus) sebagai pertanda bencana alam.

Kepala Seksi Observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta Bambang Subadyo mengatakan, guncangan gempa terasa keras karena pusatnya dangkal dan berada di pantai sebelah tenggara Bantul.

Meski demikian, gempa ini tidak merusak seperti gempa pada 21 Agustus lalu. Intensitas dan lokasi kedua kejadian gempa tidak jauh. ”Gempa 21 Agustus pusatnya di darat, jadi getarannya lebih terasa dibandingkan yang kemarin,” kata Bambang.

Getaran besar hanya dirasakan warga selama tiga detik, tetapi Bambang mengatakan bahwa dari alat pencatat gempa, gempa itu riilnya berlangsung selama tiga menit. Pada Senin pagi sempat terjadi gempa susulan, tetapi tidak terasa karena hanya berkekuatan 3 skala Richter.

Dekatnya jarak waktu antara kedua gempa yang cukup menimbulkan kepanikan warga itu dinilai Bambang sebagai hal yang wajar. Namun, ia belum bisa memastikan apakah ada hubungan langsung antara kedua gempa itu. ”Kami masih harus meneliti hal itu lagi,” ujarnya.

Gempa juga dirasakan di wilayah Klaten dan Purworejo (Jawa Tengah). ”Pada gempa 21 Agustus, kami mendapat laporan terasa hingga Kabupaten Magelang dan Temanggung,” ujar Bambang. (WKM/ENG)


Editor :