Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 01:31 WIB
Sinabung Meletus Lagi
Meletus, Wartawan di Kaki Gunung Panik
Andreas Maryoto | Glori K. Wadrianto | Selasa, 7 September 2010 | 09:55 WIB
|
Share:
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Sepeda motor seorang wartawan yang memantau di Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumut, penuh debu vulkanik hasil letusan Gunung Sinabung, Selasa (7/9/2010). Pada pukul 00.23-00.38 Gunung Sinabung metelus lagi dan menghembuskan asap hitam pekat bercampur debu setinggi 5.000 meter.

SIMPANG EMPAT, KOMPAS.com — Suara gemuruh yang menyertai letusan Gunung Sinabung tengah malam tadi ternyata tak hanya membuat panik penduduk. Para pewarta foto yang bertahan di kaki gunung yang terletak di kawasan Tanah Karo itu pun sempat kocar-kacir akibat letusan tersebut.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Gunung Sinabung kembali meletus beberapa menit lewat tengah malam. Kala itu, di kaki Gunung Sinabung, tepatnya di Desa Tiga Serangkai, Kecamatan Simpang Empat, ada tak kurang dari 10 pewarta foto.

Sejak Sinabung mengundang perhatian dengan letusannya, para pewarta foto tersebut memilih menjadikan sebuah masjid bernama Al Jihad yang berada di kaki Sinabung menjadi posko mereka. "Suara letusannya bergemuruh, keras sekali, mirip letupan meriam saat perang," kata salah seorang wartawan.

Kondisi gemuruh dan letusan yang dibarengi dengan hujan debu membuat seluruh wartawan panik dan memaksa mereka bertahan di dalam bangunan masjid. "Kejadiannya enggak lama, mungkin hanya sekitar 40 detik, tapi gemuruhnya keras sekali, kami sempat panik," kata dia lagi.

Desa Tiga Serangkai terletak sekitar 3 kilometer pada garis lurus ke arah Gunung Sinabung. Dari desa ini dapat dilihat dengan jelas aktivitas vulkanik di puncak gunung. Pagi ini, misalnya, udara amat cerah. Kepulan asap putih dari puncak gunung terlihat masih membubung ke udara.

Sejak kejadian letusan pertama kali hari Minggu pekan silam, sebagian warga desa telah mengungsi. Pagi ini pun tak banyak tampak warga desa di lokasi itu. Hanya beberapa orang yang tampak berlalu lalang, menembus hamparan debu yang ketinggiannya mencapai 0,5 sentimeter.