Tribun Medan
Presiden SBY dipandu Kepala Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, saat memantau Gunung Sinabung dari jarak 12,5 Km di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Tanah Karo, Senin (6/9/2010) sore.
KABANJAHE, KOMPAS.com — Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono menyatakan, Gunung Sinabung masih tetap berstatus awas.
Pernyataan Surono itu disampaikan melalui pesan singkat kepada Kompas, setelah terjadi letusan kelima yang lebih dahsyat, Selasa (7/9/2010) dini hari.
PVMBG mencatat, letusan terjadi sekitar pukul 00.40 WIB. Kira-kira 10 menit kemudian terjadi pemadaman listrik di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara.
Gunung Sinabung pun mengeluarkan asap hitam tebal yang menyembur hingga ketinggian 5.000 meter dari puncak gunung.
Letusan tersebut diikuti suara gemuruh, getaran, dan hujan abu lebat, terutama di daerah beradius 6 kilometer dari Gunung Sinabung. Getarannya terasa hingga Kabanjahe dan Brastagi yang jika ditarik garis lurus sejauh antara 12-13 km dari puncak Sinabung.
Ketika terjadi letusan, sebagian pengungsi di Jambur Taras, Brastagi, terbangun. Namun, mereka kembali tidur setelah Ketua Pengelola Jambur Taras, Naksir Purba, meyakinkan pengungsi bahwa letusan tidak akan membahayakan mereka. "Jumlah pengungsi juga tidak bertambah, artinya tidak ada lagi kepanikan, paparnya.
Sebelumnya, terjadi empat kali letusan besar di Gunung Sinabung. Pertama pada Minggu (29/8/2010) pagi yang membuat panik ribuan warga. Senin dini hari kembali terjadi letusan disusul embusan asap hitam tebal setinggi 2.000 meter.
Selang empat hari kemudian, tepatnya pada Jumat (3/9/2010) pukul 04.38-04.51, Sinabung kembali meletus diiringi gemuruh dan getaran yang terasa hingga jarak 8 kilometer.
Asap letusan berwarna hitam tebal dengan ketinggian sekitar 3. 000 meter dari bibir kawah yang condong ke arah timur. Pada Jumat sore hari pukul 17.59, Gunung Sinabung meletus lagi dengan menyemburkan asap hitam bercampur debu setinggi 1.000 meter.


