Purwakarta, Kompas - Kawasan Cikampek dan Nagreg dinilai sebagai titik pengaturan lalu lintas paling krusial di Jawa Barat. Pemudik diimbau mewaspadai kemacetan di daerah tersebut, terutama pada H-2 dan H-1 Idul Fitri tahun ini.
Direktur Lalu Lintas Kepolisian RI Brigadir Jenderal Djoko Susilo, saat berkunjung ke Cikopo, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (4/9), mengungkapkan, Cikampek dan Nagreg menjadi titik pertemuan arus yang penting di wilayah Jabar. Nagreg menjadi titik temu arus kendaraan dari tiga jalur, sementara Cikampek dari dua jalur.
Peningkatan kapasitas Tol Jakarta-Cikampek seiring dengan selesainya pelebaran jalan, mepetnya waktu mudik, serta prediksi peningkatan jumlah kendaraan berpotensi memicu kemacetan parah di kedua titik tersebut. Oleh karena itu, polisi berencana mengendalikan arus kendaraan ke arah timur sejak di tol untuk menghindari kemacetan di luar tol.
Djoko menambahkan, kendaraan akan diarahkan untuk tertib, mengutamakan lajur kiri, mengurangi kecepatan, dan tidak saling serobot di jalan tol. Polisi juga akan mengatur pengalihan arus secara terintegrasi di titik-titik pengaturan strategis, seperti Kilometer 66 Tol Jakarta-Cikampek.
"Setiap tindakan yang diambil di satu titik harus diketahui oleh personel di titik lain sehingga pengaturan lalu lintas lebih integral. Saya mengimbau pemangku kepentingan agar menghilangkan ego sektoral. Jangan asal daerahnya aman, tetapi mengorbankan daerah lain," ujarnya.
Kepala PT Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Budi Pramono menyebutkan, untuk mengantisipasi peningkatan jumlah kendaraan, pihaknya menyiapkan gardu tambahan di sejumlah gerbang, seperti Pondok Gede Timur, Cikunir 5, dan Cikampek.
Hingga H-5, kemarin, arus kendaraan di jalur-jalur mudik di wilayah Purwakarta terpantau lancar. Arus sedikit tersendat di ruas Cikopo-Mutiara-Pasar Cikampek serta di jalur pantura menjelang Simpang Cikampek. Kendaraan juga sempat mengantre keluar Tol Cikampek pada Sabtu malam. Namun, secara umum kendaraan dapat mengalir.
Jalur alternatif
Sementara itu, jalur alternatif di wilayah Cirebon sudah layak dilintasi meski beberapa titik masih rusak. Jalur ini menjadi solusi bagi pemudik agar terhindar dari kemacetan di ruas utama pantura. Sedikitnya terdapat lima jalur alternatif di Cirebon yang disiapkan untuk arus mudik. Hampir semua sudah layak dilintasi. Di wilayah timur, jalur alternatif Kanci-Karangwareng-Ciledug, hanya 80 persen yang layak dilewati karena sebagian jalannya masih bergelombang. Jalan rusak terdapat di sekitar Pasar Pabuaran, lebih kurang 100 meter. Adapun jalan berlubang ada di sekitar Cisaat, Karangwareng. Bekas tambalan jalan membuat jalan bergelombang.
Jalur alternatif Lemahabang-Ciawigajah-Beber (ke arah Kuningan) relatif baik. Jalur alternatif Waled-Jatiseeng-Ciledug juga sudah bagus, termasuk jalan di depan RS Waled yang selama ini rusak. Sementara itu, jalur alternatif di wilayah barat, yakni Bunder-Kedondong-Panjalin serta Bunder-Gintung-Kebon Turi, pun layak dilewati. Namun, di Panjalin, Kecamatan Sumber Jaya, Majalengka, jalannya jelek sepanjang 300 meter.
Menurut Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan Dinas Bina Marga Kabupaten Cirebon Avip Suherdian, perbaikan jalur alternatif sudah dilakukan jauh-jauh hari. Akan tetapi, belum semuanya selesai. Jalan di Cisaat dan Pasar Pabuaran, misalnya, akan dikerjakan setelah Lebaran. (MKN/THT)
