Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 01:46 WIB
Pasar Tumpah, Jalur Majalengka Padat
Jalur Bandung-Cirebon Satu Arah
Timbuktu Harthana | Glori K. Wadrianto | Senin, 6 September 2010 | 08:35 WIB
|
Share:

MAJALENGKA, KOMPAS.com — Arus kendaraan di sekitar Pasar Prapatan Sumberjaya, Majalengka, memadat akibat pasar tumpah. Polisi akhirnya memberlakukan jalan satu arah untuk arus kendaraan dari Bandung ke Cirebon.

Sejak pukul 06.00, pasar sudah mulai padat akibat aktivitas pedagang yang membuka lapaknya. Kepadatan juga diakibatkan mobil barang menurunkan muatannya serta becak dan angkutan kota menaikturunkan penumpang di sekitar pasar.

Jika mobil berhenti lebih dari 30 detik, kemacetan panjang pun terjadi. Konsumen yang menyeberang, lalu lalang kuli angkut, serta becak menambah kepadatan arus di depan Pasar Prapatan Sumberjaya. Semakin siang, jumlah pedagang dan pembeli semakin memenuhi jalan di sekitar pasar.

Kepala Polsek Sumberjaya Ajun Komisaris Soeparna mengatakan, sosialisasi sudah coba dilakukan, tetapi pedagang masih membandel. Berdasarkan kesepakatan awal, pedagang yang berjualan di bahu jalan membelakangi jalan. Harapannya, tidak ada pembeli yang meluber ke jalan. Becak seharusnya juga tidak boleh mangkal di pinggir jalan, tapi banyak juga yang menunggu penumpang di depan pasar.

Untuk mengurai kemacetan, diberlakukan jalan satu arah, yakni dari Bandung ke Cirebon. Sedangkan kendaraan dari Cirebon-Bandung dialihkan ke jalur alternatif, yakni Prapatan-Leuwimunding-Palasah dan Panyingkiran-Gelok-Banjaran.

Kendaraan yang diarahkan ke jalur alternatif adalah bus dan angkutan umum, sedangkan motor dan mobil pribadi masih diperbolehkan melintas. Hingga pukul 08.00, kondisi lalu lintas di Pasar Prapatan Sumberjaya masih padat lancar.

"Kami berlakukan sistem buka tutup. Jika jalannya lengang, kami akan buka jalannya untuk kendaraan dari Cirebon," kata Soeparno.

Pedagang yang tidak boleh berjualan di bahu jalan sekitar pasar memilih bergeser ke arah barat sehingga pasar tumpah melebar. Para pedagang juga sulit diatur, mereka bersikukuh tetap berjualan dengan menghadap ke jalan.