JAKARTA, KOMPAS.com — Ribuan calon pemudik bersepeda motor, Sabtu (4/9/2010), menyerbu toko-toko onderdil dan bengkel di Jakarta. Diperkirakan, mereka mulai melaju pada hari Minggu ini.
Iwan (44), pemilik bengkel Putera Motor di Daan Mogot, mengatakan, pada hari biasa bengkelnya menangani 15 sepeda motor per hari, tetapi kini 20-25 sepeda motor per hari.
Heru (35), pemilik Heru Helm, mengatakan, tahun ini pendapatan penjualan helm, sarung tangan, penutup hidung, dan spion naik 20-50 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Murah Banyak orang memilih mudik dengan sepeda motor karena murah. Setiba di kampung, sepeda motor juga dapat digunakan untuk bersilaturahim, terlebih di tengah buruknya transportasi desa.
Setiadi, warga Mampang, Jakarta Selatan, mudik ke Pekalongan dengan sepeda motor, pada hari Minggu ini seusai sahur. ”Saya mudik naik motor sejak 2005. Lebih hemat karena dapat silaturahim tanpa sewa ojek,” katanya.
Afit Ali, yang akan mudik ke Bengkulu dengan sepeda motor pada Senin (6/9/2010) malam, juga menganggap lebih murah mudik dengan sepeda motor. ”Ongkos bus eksekutif Jakarta-Bengkulu pulang-pergi Rp 900.000,” katanya.
Dengan sepeda motor, Afit cukup mengeluarkan Rp 798.000, yakni untuk membeli dua ban baru (Rp 300.000), kampas rem (Rp 70.000), ganti oli (Rp 28.000), aksesori plus jasa (Rp 100.000), dan bensin Jakarta-Bengkulu (pergi-pulang, Rp 300.000).
"Mudik dengan motor sangat riskan keselamatannya, tapi ongkosnya murah sehingga diminati. Adalah tugas pemerintah menyediakan angkutan murah,” kata Djoko Setijowarno, ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. (HEN/SEM)

