Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 05:37 WIB
Makanan kedaluwarsa
Makanan dan Minuman Bermasalah Ditemukan
Mohamad Burhanudin | Jimmy Hitipeuw | Minggu, 5 September 2010 | 02:20 WIB
|
Share:

BANJARNEGARA, KOMPAS.com - Tim gabungan dari sejumlah dinas terkait di Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menemukan sejumlah makanan dan minuman dalam kemasan yang sudah kedaluwarsa dari inspeksi mendadak di sejumlah pasar di wilayah itu, Sabtu (4/9/2010) . Tim juga mencurigai adanya penggunaan bahan pewarna tekstil untuk produk makanan ringan.

Sidak tersebut melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Kesehatan, dan Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Banjarnegara. Pasar yang disidak di antaranya Pasar Kota dan Pasar Perja Klampok.

Di Pasar Perja, tim menemukan sejumlah minuman kemasan gelas telah melewati masa kedaluarsa di beberapa kios. Minuman bermerek Mount Tea tersebut dicampur dalam kardus bersama minuman merek sejenis yang tanggal kedaluarsanya belum habis.

"Kami sudah meminta agar minuman kedaluarsa ini tak dijual dan disita. Makanan atau minuman yang melewati masa kedaluarsa jelas merugikan konsumen karena bisa berbahaya bagi kesahatan," kata Kepala Seksi Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Disperindag Banjarnegara, Wahyudiono.

Di Pasar Perja, tim juga mendapati, sejumlah mie kering dalam kemasan melewati masa kedaluarsa. Tim kemudian menyita dagangan tersebut.

Masih di Pasar Perja, sejumlah makanan kecil dicurigai menggunakan bahan pewarna tekstil sebagai zat warna. Indikasi kecurigaan itu adalah warna terang menyala dalam makanan kecil untuk anak-anak itu.

"Untuk menentukan apakah ada zat pewarna tekstil tidaknya kami akan mengujinya di laboratorium," kata dia.

Di Pasar Kota Banjarnegara, sejumlah mi basah yang mengandung formalin ditemukan. Mie tersebut secara fisik tampak lebih cerah dan terang. Formalin dipakai sebagai pengawet dan membuat tampilan mi basah terlihat lebih menarik.

Makanan yang mengandung formalin ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat memicu berbagai jenis penyakit, termasuk kanker, imbuh Wahyudiono.

Di Purbalingga, dinas peternakan setempat menggelar sidak di Pasar Segamas, pasar induk terbesar di Purbalingga, khususnya di kios-kios daging. Dari hasil sidak tak ditemukan adanya daging bermasalah seperti busuk, gelonggongan, mati kemar in (tiren), maupun penyuntikan, serta pemberian formalin.

"Kondisinya rata-rata masih bagus. Dari hasil uji keasaman, rata-rata keasaman masih normal, yaitu berkisar antara 6 sampai 7," kata Retno Indrawati, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Kesehatan Hewan Purbalingga.