Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 21:35 WIB
Suku Terasing
Kondisi Orang Rimba Bermukim Memprihatinkan
Irma Tambunan | Marcus Suprihadi | Jumat, 3 September 2010 | 20:10 WIB
|
Share:
KOMPAS/IRMA TAMBUNAN Orang rimba dari Suku Anak Dalam di Jambi. Sebagian dari mereka sudah menetap, tetapi kondisinya memprihatinkan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 300 orang rimba atau suku anak dalam di Provinsi Jambi dinyatakan telah bermukim. Sebagian besar dari mereka berada dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan karena tidak memiliki sumber daya yang menjadi basis kehidupan berkelanjutan.

Mereka tidak memiliki basis kehidupan yang berkelanjutan, seperti tanah untuk berkebun dan modal untuk bertani.
-- Robert Aritonang

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi Dyan Pramono Effendi mengatakan, hasil survei kependudukan menunjukkan, jumlah penduduk Jambi mencapai 3,1 juta jiwa, atau naik dari 2,8 juta jiwa pada 10 tahun lalu. Laju pertumbuhan penduduk selama 10 tahun terakhir mencapai 2,55 persen.

Dari jumlah tersebut, warga Suku Anak Dalam (SAD) berjumlah 3.198 jiwa yang tersebar di enam kabupaten. Jumlah terbesar SAD berada di Kabupaten Sarolangun. yaitu 1.095 jiwa. Mereka selebihnya menetap di Merangin 858 jiwa, Tebo 823 jiwa, Bungo 286 jiwa, Batanghari 79 jiwa, dan Tanjung Jabung Barat 57 jiwa. Komposisi laki-laki dan perempuan cukup seimbang, yaitu 1.610 laki-laki dan 1.588 perempuan.

Menurut Dyan, meski jumlah warga SAD cukup banyak, tidak semuanya dikategorikan sebagai orang rimba. Ada sebagian kecil yang telah menetap, dikategorikan sebagai warga desa tedekat. "Mereka yang telah bermukim, walaupun keturunan orang rimba, kami tetap masukkan dalam administrasi desa terdekat. Hanya yang masih seminomaden dan tinggal di dalam hutan yang kami kategorikan orang rimba," ujar Dyan, Jumat (3/9/2010).

Sensus orang rimba di Jambi, menurut Dyan, melibatkan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi orang rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi.

Antropolog dari KKI Warsi Robert Aritonang mengatakan, pihaknya pernah mengadakan pendataan orang rimba pada tahun 2008. Dari kegiatan itu, diketahui jumlah orang rimba mencapai lebih dari 3.500 jiwa. Mengacu pada hasil sensus BPS, pihaknya memperkirakan jumlah orang rimba yang telah menetap atau bermukim mencapai sekitar 300 jiwa. Mereka tersebar pada empat wilayah di sekitar TNBD, yaitu masing-masing satu kelompok di wilayah Pematang Kabau, Air Panas, Pemenang, serta tiga kelompok di wilayah Singkut. "Enam kelompok ini sudah digolongkan sebagai warga desa," ujarnya.

Robert menjelaskan, orang rimba memilih menetap setelah mendapat bantuan rumah dari sejumlah pihak, seperti pemerintah ataupun LSM. Mereka berpikir akan lebih sejahtera setelah menetap.

Yang terjadi, kondisi perekonomian mereka justru sangat memprihatinkan. Hal itu karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk diolah. "Mereka tidak memiliki basis kehidupan yang berkelanjutan, seperti tanah untuk berkebun dan modal untuk bertani," ujar Robert.

Saat ini, lanjut Robert, banyak orang rimba yang telah bermukim malah menjadi pengemis di jalan lintas tengah Sumatera untuk dapat bertahan hidup. Sebagian kaum lelaki tetap menjalankan kebiasaan berburu babi, rusa, dan labi-labi di hutan untuk mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Ada juga yang mengambil sawit milik perusahaan untuk dijual ke pedagang, tetapi mereka akhirnya dipukuli petugas keamanan setempat.