Jalan raya begitu lengang, sementara polisi dan TNI berjaga- jaga dengan senjata lengkap untuk menghadapi konsentrasi massa di sejumlah titik.
Wakil Kepala Polri (Wakapolri) Komisaris Jenderal Yusuf Manggabarani, yang sudah berada di Buol, kemarin,
mempertemukan sejumlah tokoh agama dan pemuda dengan jajaran kepolisian. Mereka yang hadir, antara lain, adalah Raja Buol Ibrahim Turungku, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen (Pol) HM Amin Saleh, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Buol Ajun Komisaris Besar Amin Litarso, serta keluarga korban bentrokan.
Menanggapi tuntutan warga, Manggabarani berjanji akan meluruskan dan menguak kasus tewasnya Kasmir Timumun, tahanan Kepolisian Sektor (Polsek) Biau yang menurut polisi meninggal akibat gantung diri di sel. Manggabarani juga berjanji akan mengusut kasus penembakan yang menewaskan tujuh warga sipil dalam bentrokan pada Selasa-Rabu lalu.
”Tim dari Mabes Polri akan turun untuk mengusut kasus ini. Untuk itu, kami meminta masyarakat dan semua pihak tenang dan mengendalikan diri serta tidak anarki,” kata Manggabarani menekankan.
Sebagaimana diberitakan, Selasa pukul 21.30 Wita hingga Rabu dini hari lalu terjadi bentrokan antara warga dan polisi. Kasus ini dipicu protes warga terkait tewasnya Kasmir Timumum di sel Polsek Biau di Buol.
Penahanan Kasmir dilakukan menyusul kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan personel Polsek Biau, Briptu Ridwan, harus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Palu, Sabtu malam lalu. Dalam kecelakaan itu, Ridwan mengalami patah tulang.
Kasmir diduga menabrak Ridwan yang tengah bertugas menertibkan aksi balapan liar sepeda motor malam itu.
Pada Senin siang lalu polisi mengabarkan bahwa Kasmir meninggal dunia akibat gantung diri di tahanan. Kepala Polres Buol dan Kepala Polda Sulteng hingga Rabu lalu bersikeras menyatakan bahwa Kasmir tewas akibat gantung diri. Namun, hasil visum RSUD Buol, sebagaimana dijelaskan dr I Made Darmawan, menunjukkan bahwa
kematian Kasmir akibat patah tulang leher dan saluran pernapasan yang terjepit. Tak ada kesimpulan bunuh diri.
Hal itulah yang membuat warga protes dan berujung bentrokan. Mengingat sejumlah pihak—termasuk DPR, Komnas HAM, dan Komisi Kepolisian Nasional—meminta kasus ini diusut tuntas, Kepala Polri kemudian membentuk tim pencari fakta yang dipimpin Manggabarani.
Menanggapi kasus ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta menyatakan, semestinya kericuhan bisa dicegah bila perangkat pemerintah, TNI, dan kepolisian bekerja baik. Polri, pemerintah daerah, dan TNI, lanjut Presiden, sama-sama bertanggung jawab dalam bentrokan antara warga dan polisi yang mengakibatkan tujuh warga tewas.
Ketika ketegangan berkembang dan makin mengancam, demikian Presiden, TNI seharusnya dapat berkolaborasi dengan Polri untuk mengatasi keadaan. Di sisi lain, pemerintah daerah lebih
”Saya melihat rasa tanggung jawab, profesionalisme, sinergi, dan koordinasi ini yang belum berlangsung baik. Pemimpin yang baik mesti mengerti apa yang terjadi hari-hari tertentu. Sudah ada pemicu, sudah ada insiden, sudah ada berita-berita ke sana kemari, mestinya dengan cepat, responsif, dengan tepat semua resources digunakan,” ujar Presiden.
Bentrokan di Buol, kata Presiden, berkembang karena kurangnya antisipasi, sinergi antarelemen yang tidak baik, respons yang tidak cepat, dan tanggung jawab yang tidak penuh. ”Ini tidak bisa kita terima. Saya akan meminta pertanggungjawaban gubernur dan bupati. Saya juga akan meminta pertanggungjawaban kepolisian. Saya akan bertanya apa yang dilaksanakan TNI di daerah untuk mengatasi masalah ini,” ujar Presiden.
Dalam pertemuan di Buol kemarin, perwakilan masyarakat meminta Kapolda Sulteng, Kapolres Buol, dan Kapolsek Biau dicopot dari jabatannya. Selain itu, aparat kepolisian yang melakukan penembakan saat bentrokan berlangsung juga dipecat.
Untuk tuntutan tersebut, Manggabarani secara diplomatis berujar, ”Pokoknya kami akan memeriksa semua anggota Polri yang terlibat serta saksi-saksi yang mengetahui kejadian ini.”
Situasi mencekam kemarin tak lepas dari aksi pembakaran yang kembali dilakukan warga pada Rabu malam hingga Kamis dini hari. Warga menyerang rumah dinas Wakapolres Buol dan membakar motor patroli yang ada di rumah itu.
Kantor Polsek Momunu, sekitar 15 km dari Kota Buol, juga dibakar massa. Sedikitnya tujuh sepeda motor serta dua mobil dinas di sana ikut dibakar.
Amarah warga dipicu penembakan yang lagi-lagi dilakukan polisi pada Rabu petang. Ikhsan Mangge ditembak di pinggang kiri hingga tembus pinggang kanan sehingga harus dilarikan ke RSUD Buol, Rabu malam. Aksi penembakan itu terjadi beberapa saat setelah Kapolda Sulteng

