Sabtu, 20 Desember 2014

News / Regional

Kebersihan

Diselidiki, Kue Takjil Tewaskan 8 Orang

Rabu, 1 September 2010 | 01:24 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Hingga Selasa (31/8/2010) malam, aparat Kepolisian Resor Barru bekerja sama dengan paramedis masih terus menyelidiki tewasnya delapan warga Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, setelah menyantap hidangan buka puasa.

Sampel dari bekas muntahan berupa remah-remah kue dadar yang diduga menjadi penyebab kematian korban, Kamis petang, telah diambil untuk pemeriksaan forensik.

Kepala Kepolisian Resor Barru Ajun Komisaris Besar Darma Lelepadang membenarkan bahwa pihaknya telah meminta keterangan sejumlah warga Dusun Salo Puru, Desa Pattappa, Kecamatan Pujananting.

Lokasi kejadian merupakan dusun terpencil yang terletak sekitar 200 kilometer arah utara Makassar, tepatnya di poros Kabupaten Barru-Kabupaten Soppeng.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Barru Adi Patria menyebutkan, enam korban meninggal di lokasi kejadian adalah Mami (12), Asminaya (10), Syamsidar (19), Sawu (60), Waleng (70), dan I Sani (80). Dua lainnya meninggal di RSUD Barru, yakni Raihan (2) dan Juhanei (38).

Sebetulnya ada 15 warga yang keracunan. Delapan meninggal, tujuh lainnya kini dirawat di RSUD Barru. "Mereka adalah satu rumpun keluarga besar yang saling bertetangga," kata Patria kepada Kompas.

Hidangan takjil Menurut Patria, kejadian tersebut berawal dari penyajian takjil (panganan awal buka puasa) di rumah Juhaeni (38).

Sekitar sejam sebelum jadwal buka puasa, sejumlah anak balita dan anak seusia SD yang tidak berpuasa mencicipi kue dari bahan tepung beras yang digulung bersama kelapa parut dan gula aren itu. Seketika, anak-anak tersebut muntah, mual, kejang-kejang, dan sakit perut.

Korban anak balita yang muntah-muntah langsung dilarikan ke Puskesmas Pujananting. Hasil pemeriksaan sementara menyebutkan, mereka terduga keracunan.

Dugaan tersebut didukung keterangan Kepala Puskesmas Pujananting dr Arifuddin bahwa seekor anjing yang ikut menjilat bekas muntahan korban di lokasi beberapa saat kemudian mati. "Sampel muntahan korban jadi titik awal untuk menelisik penyebab keracunan itu," kata Arifuddin.

Tragisnya, dadar yang tersisa pun masih disantap lagi oleh sejumlah orang dewasa saat azan magrib terdengar. Karena itulah, sejumlah orang dewasa ikut jadi korban.

Bupati Barru Andi Idris Syukur yang menjenguk korban di RSUD Barru mengimbau agar warga berhati-hati menggunakan bahan kimia untuk keperluan panganan. Aswin Rizal Harahap/Nasrullah Nara


Editor : yuli