Senin, 22 Desember 2014

News /

KEHIDUPAN

Mengabadikan Kisah Kemanusiaan di Pulau Galang

Senin, 30 Agustus 2010 | 03:16 WIB

Oleh Aris Prasetyo

Pulau Galang yang merupakan bagian dari wilayah Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, menjadi perhatian dunia pada tahun 1979. Saat itu, ratusan ribu pengungsi dari Vietnam yang menjadi korban perang saudara mengarungi Laut China Selatan dengan perahu dan ditampung di pulau ini. Sekarang, saksi bisu sejarah di pulau seluas 80 hektar ini akan diabadikan menjadi museum. 

Tidak sulit mencapai Pulau Galang dari Kota Batam. Hanya perlu waktu kurang dari 60 menit perjalanan mobil menuju Pulau Galang dari pusat Kota Batam. Pelancong akan melewati Jembatan Balerang yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Balerang adalah kependekan dari Batam, Rempang, dan Galang. Oleh masyarakat di sana, jembatan ini juga disebut sebagai Jembatan Habibie karena ide pembangunan jembatan diprakarsai oleh BJ Habibie tahun 1992.

Saksi bisu di Pulau Galang itu berupa perahu, foto, berbagai jenis bangunan, patung-patung, buku, dan perlengkapan sehari-hari yang pernah digunakan pengungsi. Sebagian dari bukti sejarah itu tersimpan rapi di bekas kantor Pusat Perlindungan Pengungsi Vietnam (P3V). Tak jauh dari kantor yang kini berfungsi menjadi semacam museum itu masih terpajang perahu yang dipakai pengungsi Vietnam saat terdampar di Pulau Galang.

Ada dua perahu yang dipamerkan. Yang satu adalah perahu asli dengan kondisi yang compang-camping dan satu lagi adalah perahu replika yang masih terlihat baru. Perahu asli memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 2,5 meter. Perahu itulah yang dipakai pengungsi Vietnam untuk keluar dari negaranya akibat pecah perang saudara. Perahu jenis itu diisi 80 orang hingga 100 orang.

Di kantor P3V itu pula terpampang ribuan foto-foto kenangan yang merekam aktivitas pengungsi selama tinggal di Pulau Galang. Ada pula sekitar 900 foto wajah pengungsi berukuran 3 x 4 dan foto para guru sukarelawan. Guru sukarelawan di bawah koordinasi Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) itu mengajar Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

Beberapa foto yang merekam aktivitas pengungsi antara lain foto berisi kegiatan olahraga angkat beban, anak-anak pengungsi bermain sepak bola, dan foto seorang pengungsi wanita yang bersantai di jala yang dikaitkan di kedua batang pohon. Ada pula foto seorang anak yang digendong ibunya tengah dipotong rambutnya oleh si tukang cukur. Foto-foto itu ditempel di papan kayu dan di dinding kantor P3V.

Peninggalan pengungsi

Sementara benda-benda peninggalan pengungsi antara lain televisi hitam putih 14 inci merek Philips, tape recorder yang tak lagi dikenali mereknya, kompor minyak 14 sumbu, peralatan dapur, dan berbagai hasil kerajinan tangan pengungsi. Kerajinan tangan itu antara lain berupa patung Buddha, rumah adat Kamboja berukuran mini, dan berbagai jenis ukiran dari kayu. Kitab suci penganut agama Buddha dan Nasrani pun masih tersimpan rapi di salah satu rak buku di ruangan P3V.

Di ruangan itu pula terekam dalam foto berupa kisah pembakaran perahu dan jaring yang hendak digunakan pengungsi untuk melarikan diri ke luar pulau. Menurut Said Adnan, koordinator lapangan di kantor P3V, ada beberapa pengungsi yang berencana kabur dari Pulau Galang. Untuk mencegah mereka menyebar tak tentu arah, pemegang otorita di Pulau Galang memerintahkan membakar perahu-perahu dan jaring yang hendak dipakai untuk melarikan diri. Ada pula foto yang menggambarkan unjuk rasa pengungsi yang menuntut kelayakan hidup di depan kantor perwakilan UNHCR di Pulau Galang.

Menurut Adnan yang bertugas di Pulau Galang sejak akhir tahun 1989, tercatat ada sekitar 250.000 pengungsi yang berdiam di pulau itu. Mereka datang secara bergiliran dengan menggunakan perahu. Bahkan, katanya, tidak sedikit pengungsi yang meninggal saat perahu masih terombang-ambing di Laut China Selatan. ”Sebenarnya, pertama kali pengungsi Vietnam terdampar di Pulau Natuna sekitar tahun 1975 dan 1976. Saat itu ada sekitar 100 orang yang berada di dalam perahu. Mereka lalu ditangani pemerintah setempat sebelum akhirnya dipindah ke Pulau Galang,” terangnya.

Dari penjelasan Adnan itu pula ada banyak kisah tragis yang dialami pengungsi, di antaranya pembunuhan akibat perkelahian dan pemerkosaan. Bahkan, didirikan Patung Taman Kemanusiaan yang menggambarkan sosok wanita yang bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi. Pemerintah akhirnya mendirikan bangunan penjara sebagai hukuman terhadap pelaku kriminal di Pulau Galang. Sampai kini, bekas penjara itu masih ada dan terletak di depan kantor P3V.

Sisa bangunan peninggalan di Pulau Galang lainnya adalah area pemakaman Ngha Trang Grave yang berisi 503 makam. Seluruhnya adalah pengungsi Vietnam yang mati karena penyakit atau tua. Bangunan ibadah yang masih kokoh berdiri sampai kini adalah Wihara Quan Am Tu dan Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, wihara masih dipakai untuk beribadah bagi penganut Buddha.

Adnan menuturkan jika mantan pengungsi yang masih hidup dan kini tersebar di beberapa negara kerap berkunjung kembali ke Pulau Galang sekadar bernostalgia. Mereka ada yang kini menetap di Perancis, Inggris, Amerika Serikat, atau kembali ke Vietnam. Rencananya, bekas kamp pengungsi di Pulau Galang ini akan dijadikan museum kemanusiaan.

”Peristiwa di Pulau Galang ini menunjukkan kisah kemanusiaan yang tanpa memandang suku, ras, agama, atau bangsa apa pun untuk saling berbagi dan menolong. Saat itu, pemerintah Indonesia tanpa ragu untuk menampung dan membantu ribuan pengungsi yang terombang-ambing di lautan melarikan diri akibat perang saudara,” kata Adnan. Perang memang tak pernah berakhir dengan senyuman. Namun, manusia-manusia yang menjadi korban perang tetap harus mendapat perhatian dan bantuan. Sebagai sesama manusia yang tetap perlu saling berbagi.


Editor :