Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Kopi Luwak Arabika Rp 9 Juta Per Kg

Jumat, 6 Agustus 2010 | 11:44 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Pemasaran kopi luwak robusta Lampung yang saat ini volumenya masih kecil perlu penetrasi pasar sehingga kopi hasil fermentasi itu bisa dikenal luas, baik di dalam maupun luar negeri.

"Promosi untuk mencari konsumen, terutama di luar negeri, harus gencar dilakukan pengusaha maupun petani yang membudidayakan kopi luwak," kata Ketua Renlitbang Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Lampung Muchtar Lutfie.

Menurut dia, peningkatan kualitas serta cita rasa khas kopi luwak juga harus dipertahankan agar konsumen berminat membeli. Kontinuitas produksi, menurut Muchtar, harus stabil tidak lebih ataupun berkurang. "Kopi luwak adalah kopi spesial sehingga mutu, cita rasa dan kontinuitas produksi harus terjaga," ujarnya.

Saat ini konsumen kopi luwak robusta Lampung di dalam negeri masih sedikit karena  sulit didapat dan harganya mahal. Menurut dia, konsumen kopi luwak robusta di luar negeri  hingga saat ini belum ada karena itu perlu promosi terus-menerus.

Pengusaha kopi luwak robusta, Desmon Tahir, mengatakan, prospek bisnis kopi jenis ini belum menjanjikan mengingat harganya yang mahal serta produksinya terbatas. Selain itu, aroma kopi luwak robusta tidak tahan lama bila dibandingkan dengan jenis arabika.

Harga kopi luwak robusta mencapai Rp 750.000 hingga Rp 1 juta per kilogram, sedangkan kopi luwak jenis arabika di pasaran bisa mencapai Rp 3 juta/kg. "Di Jerman, harga kopi luwak arabika bisa mencapai Rp 9 juta/kg," kata Desmon.

Desmon yang juga Ketua Kompartemen Promosi AEKI Lampung lebih lanjut menjelaskan, pihaknya sempat mempromosikan kopi luwak robusta di Singapura, tetapi konsumen di sana belum berminat. Konsumen di luar negeri, lanjut Desmon, lebih memilih kopi luwak arabika karena kekhasan cita rasanya. "Pedagang dari Medan dan Jawa Barat memasarkan kopi luwak arabika ke Jepang meski dalam jumlah yang tidak banyak," katanya.

Areal kopi robusta di Lampung seluas 163.000 ha dan petani yang terlibat dalam budidaya kopi sebanyak 200.000 kepala keluarga.

Luas areal kopi di segitiga emas kopi Indonesia (Lampung, Sumsel, dan Bengkulu) seluas 463.000 ha dengan produksi 218.000 ton. Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia setelah Brasil, Kolombia, dan Vietnam sebagai negara penghasil kopi.


Editor : Ignatius Sawabi
Sumber: