YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Tayangan infotainment berakar dari budaya masyarakat Indonesia yang senang menggunjingkan orang lain, kata pengamat media massa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ahmad Nyarwi. "Infotainment berangkat dari budaya masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga yang senang menggosipkan orang lain," katanya, di Yogyakarta, Minggu (1/8/2010). Oleh karena itu, ia mengatakan, tayangan infotainment sulit dihapus dari televisi Indonesia karena memiliki penggemar yang cukup banyak dan fanatik. "Terlebih lagi tayangan infotainment memberikan pemasukan uang iklan yang besar kepada televisi yang menyiarkan dan rumah-rumah produksi yang membuat tayangan infotainment," katanya. Ia mengatakan, yang menjadi persoalan saat ini adalah tayangan-tayangan tersebut tidak memiliki standar etika maupun standar jurnalistik yang baku. "Seharusnya tayangan infotainment mematuhi standar etika karena bagaimanapun juga mereka bekerja di ruang publik walaupun substansi yang ditayangkan sering terlampau privat dan tidak layak dikonsumsi," katanya. Menurut dia, pengetatan standar etika bagi tayangan infotainment bukan berarti memasung kebebasan berkreativitas bagi para pekerja infotainment. "Pekerja infotainment harusnya juga sadar bahwa kebebasan, yang sering menjadi tameng saat ada wacana penghapusan infotainment, sering menciderai kebebasan maupun hak-hak privat orang lain," katanya. Nyarwi mengatakan, jika tayangan infotainment ingin dimasukkan sebagai produk jurnalistik, seharusnya para pekerjanya mematuhi kode etik dan tradisi-tradisi jurnalistik yang berlaku.


