Sabtu, 4 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 4 Februari 2012 | 09:52 WIB
PENANGKARAN
Sudah 3.000 Maleo Kembali ke Habitatnya
Josephus Primus | Josephus Primus | Kamis, 29 Juli 2010 | 17:37 WIB
|
Share:

Mosztics Attila
Burung maleo (Macrocephalon maleo) khas Pulau Sulawesi.

TERKAIT:

GORONTALO, KOMPAS.com - Sebanyak 3.000  ekor burung Maleo berhasil dikembalikan  ke alam bebas atau di tempat habitatnya, di kawasan hutan Hungoyono, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dalam  tujuh tahun terakhir ini.       Hal tersebut dinyatakan Wildlife Conservation Society (WCS), salah satu organisasi lingkungan yang fokus menjaga kelestarian satwa endemik yang bernama latin  Macrocephalon maleo ini. "Sejak kami  hadir di Hungoyono  tahun 2003, sudah sebanyak itu burung maleo yang kami lepaskan kembali ke alam bebas, tapi jumlah itu terbilang sedikit,"  ujar Usman Laheto, Asisten Project WCS di Gorontalo, Kamis (29/7/2010).      Dia mengatakan, satwa yang dikenal antipoligami ini memang nyaris punah keberadaannya, selain telurnya acap dimangsa binatang seperti biawak dan elang, manusia juga turut menjadi predator yang mengancam. "Satwa itu terus diburu, juga telurnya, selain itu,  kebakaran hutan yang disebabkan oleh manusia turut menghancurkan tempat maleo bertelur," kata dia.      Kamp Hungoyono yang masuk dalam wilayah Kabupaten  Bone Bolango, lanjutnya, merupakan tempat terbesar habitat burung Maleo   di Gorontalo. Di kawasan ini WCS  mendirikan empat tempat penangkaran telur burung maleo untuk menghindari dari binatang predator yang senantiasa mengancam.      Dalam sebulan,  rata-rata 40 hingga 80 butir telur burung Maleo berhasil diselamatkan dan ditetaskan dalam tempat penangkaran tersebut.     Burung maleo yang juga dikenal sangat pemalu ini pada umumnya bertelur di  tempat-tempat yang memiliki panas bumi, seperti di tepi pantai, dan di kawasan yang memiliki energi panas bumi (Geothermal), seperti halnya yang terdapat di Hungoyono.

Sumber :
ANT