BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Pimpinan Cabang ASDP Indonesia Ferry Bakauheni Adam Dedi Indrajit mengungkapkan, rencana menjadikan Panjang sebagai titik penyeberangan alternatif sangat tidak lazim.
Menurutnya, sebelumnya pernah ada rencana memanfaatkan pelabuhan Panjang sebagai pelabuhan bersandar kapal angkut penumpang, namun itu bukan kapal roro. Melainkan, kapal perang bantuan trasportasi Lebaran dari TNI AL.
"Jika itu masalahnya ada pada jalan, sebaiknya dikoordinasikan dengan PU (Pekerjaan Umum)," ungkapnya, Senin (19/7/2010) mengomentari rencana menjadikan Pelabuhan Panjang di Bandar lampung sebagai alternatif titik penyeberangan Lampung ke Merak, Banten.
Ia mengatakan, pelabuhan Bakauheni siap mengantisipasi lonjakan penumpang di saat Lebaran. Untuk mencegah antrean, sebanyak 28 kapal roro akan disiapkan dari biasanya hanya 21 kapal. "Dari tahun ke tahun tidak ada masalah. Kami siap mengantisipasi," ungkapnya.
Jika rencana menjadikan Panjang sebagai pelabuhan penyeberangan alternatif betul-betul terjadi, waktu tempuh kapal perlu menjadi pertimbangan. Jarak Bakauheni Merak yang hanya 28,8 km membutuhkan waktu tempuh kapal roro 2,5 3 jam.
Sementara, jika terus ke Panjang yang jaraknya total bisa 100 km, waktu tempuhnya tentu membengkak hingga 3 kali lipat, yaitu menjadi 8 9 jam. Padahal, waktu tempuh lewat darat dari Panjang Bakauheni rata-rata hanya 2 jam.

