Kamis, 23 Oktober 2014

News /

INFRASTRUKTUR

Ironi di Pulau Penghasil Aspal

Kamis, 17 Juni 2010 | 05:14 WIB

Inilah kisah ironi dari Pulau Buton yang terkenal sebagai daerah penghasil aspal di Indonesia. Aspal identik dengan jalan raya yang mulus. Namun, tidak demikian dengan Buton.

Sebulan lalu, warga Kelurahan Gonda Baru, Kecamatan Sorawolio, Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, menanam delapan pohon pisang dan sebatang pohon nanas di jalan nasional yang menghubungkan Kota Bau-Bau dengan Kabupaten Buton.

Tidak sulit bagi warga untuk menanam pohon itu. Hampir seluruh bagian aspal jalan nasional selebar 5 meter itu sudah terkelupas sehingga terlihat lapisan tanah di bawahnya.

Bagian jalan yang hancur membentuk lubang-lubang yang cukup besar sedalam lebih dari 10 sentimeter. Pada musim hujan, lubang-lubang itu menyerupai kolam berair keruh.

Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara, ada tujuh tambang aspal di Buton, yaitu Kabungka, Winto, Winil, Siantopina, Ulala, Ereke, dan Lawele. Total deposit aspal mencapai 660 juta ton. Dengan jumlah itu, diperhitungkan bisa diproduksi 2 juta ton per tahun.

Warga sekitar jalan itu sangat kecewa karena jalan tidak kunjung diperbaiki. Beragam kecelakaan, terutama terhadap pengendara sepeda motor, terjadi di sepanjang jalan rusak itu. Banyak pula mobil mogok karena sumbu dan per roda patah.

Lurah Gonda Baru La Iria (54) mengatakan, tindakan warga menanam pohon di badan jalan adalah wujud kekecewaan, bukan hendak mengganggu pengguna jalan lain. Karena itu, pohon-pohon ditanam sedikit ke tepi jalan.

Dalam pemantauan, Rabu (16/6), kerusakan jalan mulai terlihat saat masuk Kelurahan Keisabu Baru, Kecamatan Sorawolio, Kota Bau-Bau. Hampir seluruh jalan tak beraspal, dipenuhi batu sebesar bola tenis.

Menjelang masuk ke Kelurahan Gonda Baru di perbatasan Kota Bau-Bau dengan Kabupaten Buton, kerusakan jalan makin parah. Lubang-lubang besar makin sering dijumpai. Pengendara mobil harus meliuk ke kanan dan ke kiri untuk menghindari lubang.

Data Dinas Pekerjaan Umum Kota Bau-Bau menunjukkan, panjang jalan nasional di wilayah Kota Bau-Bau pada tahun 2009 adalah 62,076 kilometer (km). Sepanjang 8,04 km di antaranya rusak berat. Tidak banyak perubahan karena jalan nasional yang rusak berat pada tahun 2008 tercatat sepanjang 8,35 km.

Perekonomian tersendat

Poros jalan rusak itu merupakan jalur vital karena menghubungkan Pasarwajo, ibu kota Kabupaten Buton, dengan Kota Bau-Bau sebagai kota pelabuhan. Akibatnya, aktivitas perekonomian warga tersendat.

La Amu (34), sopir angkot jurusan Bau-Bau-Pasarwajo, mengatakan, trayek yang ditempuhnya berjarak 48 km. Jika kondisi jalan bagus, jarak itu dapat ditempuh selama satu jam. Namun, La Amu harus menempuh trayeknya selama dua jam.

La Amu harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp 500.000 per bulan untuk perawatan angkotnya. Onderdil yang seharusnya berfungsi selama enam bulan hanya dapat digunakan selama dua minggu. Untuk mengurangi kerugian, La Amu berangkat ke Pasarwajo dan kembali ke Bau-Bau tiga atau empat hari kemudian.

Ami (28), pedagang sayur di Pasarwajo, harus berbelanja di Pasar Karya Nugraha, Bau-Bau, karena sayuran tidak tersedia di daerahnya. Dalam satu bulan Ami berbelanja empat kali. Ongkos satu kali perjalanan ke Bau-Bau Rp 50.000 lebih.

Barang belanjaan Ami dijual relatif mahal di Pasarwajo. Misalnya, tomat yang dibeli Rp 14.000 per kilogram dijual di Pasarwajo Rp 18.000 per kilogram.

Wali Kota Bau-Bau MZ Amirul Tamim prihatin dengan kondisi itu. Sejak tahun 2003, Amirul berinisiatif memperbaiki jalan nasional dengan dana APBD meski jalan itu merupakan tanggung jawab pemerintah pusat.

Menurut Amirul, sudah ada 30 km jalan nasional yang diperbaiki. Sisanya diperbaiki dengan dana APBN. ”Memang masih ada yang rusak. Tidak mungkin kami memperbaiki semuanya,” kata Amirul.

Apa pun status jalan itu, warga seperti La Amu dan Ami hanya menginginkan jalan tersebut segera diperbaiki. ”Kami disuruh bayar pajak tepat waktu. Kapan pemerintah bisa membangun tepat waktu?” kata La Amu. (Herpin Dewanto)


Editor :