Senin, 1 September 2014

News /

Galaila Karen Agustiawan

Pertamina Sudah Berubah

Selasa, 15 Juni 2010 | 06:10 WIB

  Pengantar Redaksi

”Pemimpin itu role model, pembuat keputusan. Pemimpin itu pasti bikin kesalahan karena pemimpin itu harus bikin keputusan. Kalau sampai pemimpin tidak bikin keputusan, enggak ada yang bisa dikerjakan. Diem saja, status quo,” ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada awal jabatannya.

Komitmen untuk bekerja profesional dan tanpa pamrih membawa bahtera Pertamina. Namanya mulai menghangat saat DPR gerah dan kalang kabut menyusul surat protes Pertamina yang dikirimkan kepada Komisi VII DPR. Pertamina kecewa karena dalam rapat dengar pendapat dengan direksi, awal Februari 2009, anggota DPR seperti mengadili jajaran direksi baru.

Bisa jadi banyak pihak yang gerah dengan komitmen Karen pada awal kepemimpinannya. Karen menyatakan, dia tidak akan menoleransi segala bentuk intervensi yang merugikan perusahaan dan negara.

Mbak Karen, kenapa Pertamina yang jauh lebih dahulu lahir dibandingkan perusahaan minyak bumi Malaysia, Petronas, kinerjanya tidak sebaik Petronas?

(Djoko Prabowo, djoko.sapuan@gmail.com)

Pertamina baru bergerak sebagai korporasi selama tujuh tahun, yaitu ketika menjadi PT Pertamina (Persero). Sebelumnya Pertamina adalah badan negara untuk menjamin ketersediaan energi di Indonesia. Anda bayangkan dalam tiga tahun terakhir ini saja kami sudah menaikkan produksi minyak sekitar 43.000 BOPD (barrel oil per day), kami sudah memiliki lapangan offshore yang ternyata setelah akuisisi dari perusahaan asing malah meningkat produksinya. Kita juga sudah cukup percaya diri untuk berekspansi ke luar negeri. Belum lagi di hilir, bisa dilihat perbaikan pelayanan SPBU yang meningkat jauh yang tentu didukung oleh peningkatan keandalan kilang dan fasilitas distribusi. Ini kami tempuh hanya dalam tujuh tahun.

Sebagai korporasi pun Pertamina tidak terlalu mendapatkan privilege dari pemerintah walaupun merupakan perusahaan nasional, berbeda dengan Petronas yang selain merupakan perusahaan juga merupakan regulator di negaranya. Kalau diibaratkan dalam pertandingan, Pertamina hanya pemain, sementara Petronas adalah pemain sekaligus wasit. Dengan kondisi seperti ini saja, Pertamina berhasil maju pesat. Ini menunjukkan bahwa Pak Djoko justru dapat bertepuk dada di depan Petronas bahwa putra- putri bangsa bapak dapat membuat Pertamina lebih hebat dibandingkan bangsa asing.

 Apakah Anda bisa kendalikan semua intervensi parpol?

(Yuhanif, Taman Pegangsaan Indah, Jakarta)

Dengan dukungan bangsa Indonesia, kami optimistis dapat lebih dari Petronas dan terlebih lagi, suatu saat nanti kami berharap seluruh bangsa Indonesia dapat mengangkat kepala tegak ketika menyebutkan Pertamina kepada bangsa asing.

 Kalau bisa dibuat skala, tiga urutan teratas apa sajakah ketidakenakan memimpin BUMN dibanding memimpin perusahaan milik bukan pemerintah?

(Toni Suhardjito, xxxx@yahoo.com)

Ketika kita menerima suatu amanah, harus diterima dengan konsekuensinya. Saya menyadari hal itu, tidak hanya ketika dipercaya untuk memimpin Pertamina, tetapi setiap saat. Menjadi Direktur Utama Pertamina merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya di mana saya dapat belajar lebih banyak, mengenal orang lebih banyak dan banyak manfaat lain yang saya terima. Konsekuensi yang saya terima yang cukup berarti bagi saya adalah waktu saya untuk keluarga berkurang karena kesibukan yang harus saya jalani untuk menunaikan tanggung jawab saya di kantor tersebut.

Indonesia dulu adalah negara pengekspor minyak dan termasuk anggota OPEC. Namun, kini Indonesia adalah negara pengimpor minyak. Bukankah di Indonesia masih banyak ladang-ladang minyak baru yang belum dieksplorasi?

(Aan P, Garut, xxxxx@yahoo.co.id)

Salah satu faktornya adalah meningkatnya kebutuhan minyak di dalam negeri.

Kami selalu mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan produksi minyak nasional. Tahun lalu kami merupakan satu-satunya perusahaan yang berhasil meningkatkan produksinya ketika perusahaan lain yang beroperasi di Indonesia mengalami penurunan produksi.

Pertamina kan punya dana CSR yang mestinya sangat besar. Mbok dipakai buat sosialisasi pemakaian kompor gas untuk rakyat awam agar korban ledakan tidak bertambah lagi.

(Suluh Priyanto, xxxx@gmail.com)

Kami sangat peduli pada keselamatan pemakai produk kami. Salah satu bentuknya memang kami sudah melakukan sosialisasi. Namun melihat kondisi yang terjadi sekarang, kami memang akan lebih gencar lagi melakukan sosialisasi atas keselamatan penggunaan LPG.

Dalam kesempatan ini, kami juga mengajak pengguna untuk peduli pada keselamatan diri sendiri dengan memerhatikan cara penggunaan LPG yang benar.

Bagaimana program pengembangan SDM Pertamina yang bisa mentransformasikan kultur perusahaan dan mental pejabat/birokrat menjadi profesional dan entrepreneur?

(Thobias D, Bintaro Jaya, Jakarta)


Dalam program transformasi yang sudah dijalankan sejak 2006, Pertamina sudah menyadari bahwa ada dua tema besar yang harus ditransformasi. Pertama adalah tema fundamental yang termasuk di dalamnya merupakan kultur perusahaan. Kedua adalah tema bisnis yang termasuk di dalamnya merupakan positioning Pertamina dalam bisnis.

Alhamdulillah, survei terakhir menunjukkan mayoritas pekerja Pertamina mendukung transformasi. Sebenarnya ini dapat dilihat dengan kasatmata jika kita melihat prestasi yang sampai saat ini sudah dicapai Pertamina.

Bagaimana Ibu menjaga kualitas tabung Elpiji supaya tidak mudah meledak. Apakah tidak ada lagi cara agar BBM tidak perlu diimpor dari luar negeri, tetapi dari bumi Indonesia agar tidak terkena fee dari juragan-juragan pemasok BBM ke Indonesia.

(Romunas, xxxx@telkom.co.id)

Kami sangat peduli pada keselamatan pemakai produk kami. Semua produk kami harus memenuhi standar-standar tertentu. Kami tidak memproduksi tabung LPG, kami membelinya dari produsen tabung, sebagai wadah untuk menjual produk kami, yaitu LPG. Namun, kami juga menetapkan syarat agar tabung tersebut dapat kami terima. Salah satunya dengan SNI (Sertifikat Nasional Indonesia) sebagai jaminan atas kualitas.

Pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri merupakan prioritas utama. Pada kondisi-kondisi tertentu, kita tidak dapat menghindari impor, apalagi dengan kondisi tingginya investasi untuk membangun kilang. Namun, Pertamina juga mendukung pemenuhan BBM dalam negeri dengan produksi dalam negeri dengan upaya yang nyata. Ada dua hal yang kami lakukan. Pertama adalah meningkatkan performa kilang yang ada. Kedua adalah membangun kilang baru. Kami berharap dalam lima tahun ke depan, kita dapat memenuhi sendiri kebutuhan BBM kita.

Mengapa sejak Jusuf Kalla tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden terkesan semangat Kementerian ESDM dan Pertamina mulai mengendur dalam program konversi minyak tanah menjadi elpiji?

(Suhartono, xxxxx@hotmail.com)

Pertamina tetap menjalankan program konversi sesuai rencana, baik pendistribusian maupun sosialisasinya. Sekarang bahkan Pertamina lebih gencar lagi dalam melakukan sosialisasi.

Saya rasa di sini bukan tempat saya untuk menyampaikan opini kepada pemerintah. Namun dari pihak Pertamina, kami sudah melakukan apa yang Anda sebutkan, bahkan saat ini juga kami lakukan dengan lebih gencar. Hal ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap pemakai produk kami.

Kenapa banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia selalu lebih percaya kepada orang asing. Menurut saya, orang Indonesia jauh lebih pintar dan bagus kerjanya.

(Junindra, Vila Inti Persada, xxxx@cbn.net.id)

Saya sangat setuju akan keyakinan Pak Junindra atas kemampuan putra-putri Indonesia. Hal ini pun telah terbukti seperti kami sebutkan di jawaban sebelumnya, kami sudah memiliki lapangan offshore yang ternyata setelah akuisisi dari perusahaan asing malah meningkat produksinya. Perlu saya tekankan di sini, tidak satu pun pekerja Pertamina adalah orang asing.

Mengapa sampai sekarang pemerintah/Pertamina tak berani memutuskan untuk memberikan kontrak EPC, proyek LNG Donggi/Senoro, kepada kontraktor Indonesia yang telah mampu dan terbukti telah sukses melaksanakannya pada LNG Train F, G, dan H di Bontang. Alasannya karena proyek ini dibiayai oleh pihak asing dan product off-taker-nya pun pihak asing.

Inikah produk reformasi bagi bangsa Indonesia, sekarang, tidak berani berpihak kepada bangsa Indonesia?

(Raysoeli Moeloek, xxxx@yahoo.com)

 Pertanyaan Pak Raysoeli agak bias antara wewenang pemerintah dan Pertamina. Hal ini bukan wewenang kami. Sebagai perusahaan, kami ingin sekali agar proyek LNG Donggi/Senoro segera berjalan. Sementara untuk detail dari proyek tersebut, kami semata-mata melakukan perhitungan bisnis yang paling baik.

Sebagai pejabat petinggi perusahaan negara, saya maklum bila Anda lebih mendahulukan kepentingan negara dibandingkan kepentingan ”rakyat bawah” terkait isu subsidi BBM premium akhir-akhir ini. Bagaimanakah pendapat Anda?

(Muhammadin Ciledug, Tangerang)

Sebagai perusahaan, hal ini di luar kewenangan kami. Kami berusaha melaksanakan tugas perusahaan sebaik mungkin. Tidak hanya dalam mendistribusikan BBM sampai ke pelosok Indonesia, tetapi juga melakukan bisnis-bisnis kami yang lain, mulai dari hulu sampai ke hilir di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai warga negara pribadi, pendapat yang disampaikan sebaiknya membangun dan di tempat yang tepat.

Apa kiat-kiat Ibu dalam mengatasi permainan pengadaan yang terjadi di PT Pertamina EP. Para rekanan biasanya memberi ”uang terima kasih” apabila menang tender. Agar itu menjadi perhatian utama Ibu jika Pertamina mau bersih.

Biaya produksi Pertamina sangat tinggi dibanding perusahaan minyak dan gas lain. Sementara pendapatan dari hasil produksi kecil. Efisiensi yang bagaimana yang akan Ibu lakukan?

(Paruhum Aurora, Pematang Siantar, Sumut)


Pertamina saat ini sudah berubah. Hal ini dapat terlihat dari prestasi yang sudah dicapai. Pertamina menjalankan bisnisnya dengan berpegang kepada GCG (good corporate governance). Skor Pertamina yang diberikan oleh Kementerian BUMN meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 skor GCG Pertamina adalah 74 persen, skor 80 persen (2008), dan tahun 2009 skor GCG kami meningkat menjadi 83,56 persen.

Ketika diangkat sebagai direktur utama, saya sudah menandatangani pakta integritas. Hal ini juga berlaku bagi semua pejabat dan pekerja di lingkungan Pertamina. Kami tidak boleh memberi atau menerima setoran atau apa pun yang dapat memengaruhi bisnis. Semua proses bisnis dilaksanakan berdasarkan profesionalisme.

Melalui kesempatan ini, saya menyampaikan juga kepada rekanan untuk tidak memberi setoran kepada pegawai Pertamina. Jika memang ada yang mau menerima atau bahkan meminta, silakan laporkan ke whistle blower kami.

***

 

Karen Agustiawan 

• Nama Lengkap: Galaila Karen Agustiawan 

• Lahir: Bandung, Jawa Barat, 19 Oktober 1958

• Jabatan: Direktur Utama PT Pertamina (Persero)

• Pendidikan:

- 1975-1977: SMAN III, Bandung
- 1978-1983: Sarjana Strata 1, Fakultas Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung,Bandung

• Karier:
- 1984-1986: System Analyst Programmer Mobil Oil Indonesia 
- 1987-1988: Seismic Processor dan Quality Controller Mobil Oil Indonesia
- 1989-1992: Seismic Processor dan Seismic Interpreter Mobil Oil Dallas, AS 
- 1992-1996: Project Leader Exploration Computing Departement Mobil Oil Indonesia 
- 1998: Product Manager Aplikasi G & G dan Data Manajemen CGG Petrosystem Indonesia 
- 1998-1999: Domain Specialist Lanmark Concurrent Solusi Indonesia 
- 2000-2002: Business Development Manager Lanmark Consurrent Solusi Indonesia 
- 2002-2006: Commercial Manager for Consulting and Project Management Halliburto Indonesia 
- 2006-2008: Staf Ahli Direktur Bidang Hulu PT Pertamina (Persero)
- 2008-2009: Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) 
- 2009-sekarang: Direktur Utama PT Pertamina (Persero)

• Keluarga:

Suami: Herman Agustiawan

Anak: 
1. Jemmy Moh Primaji
2. Dimas Moh Aulia
3. Dariel Moh Jastiawan

Ayah: Prof Dr Soemiatno

Ibu: R Asiah Hamimzar

 


Editor :