Minggu, 21 Desember 2014

News /

Khazanah Sunda

Tarawangsa, Musik Gesek Tertua di Sunda

Jumat, 11 Juni 2010 | 15:26 WIB

Alat musik gesek ini awalnya dimainkan berkaitan dengan upacara padi, yakni menjelang dan setelah panen. Tarawangsa dibunyikan selain untuk menghibur petani juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Kini tarawangsa dipentaskan dalam berbagai perayaan, seperti khitanan, syukuran rumah, hingga perayaan besar nasional.

Bentuk tarawangsa mirip rebab. Namun, usia alat musik ini diduga lebih tua karena sudah disebut dalam naskah Sewaka Darma (sebelum abad ke-15). Adapun rebab muncul di Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15-16, adaptasi dari alat gesek Timur Tengah yang dibawa penyebar Islam dari Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa disebut rebab jangkung karena ukurannya lebih tinggi ketimbang rebab.

Alat musik ini biasanya terbuat dari kayu kenanga, jengkol, dadap, atau kemiri. Tarawangsa memiliki dua dawai dari kawat baja atau besi, dimainkan dengan cara digesek. Namun, yang digesek hanya satu dawai yang paling dekat kepada pemain, sedangkan dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri.

Penggunaan dua dawai itu mengandung filosofi kehidupan manusia yang berpasangan, ada lelaki-perempuan, ada baik-buruk, ada umur pendek-umur panjang. Semua itu adalah kekuasaan Tuhan.

Sebagai salah satu musik tradisional Sunda, tarawangsa dimainkan dalam ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan jentreng, alat petik tujuh dawai yang menyerupai kecapi. Tarawangsa biasanya berfungsi sebagai alat musik melodi, sedangkan jentreng sebagai pengiring lagu.

Pemain tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu seorang pemain tarawangsa dan seorang pemain jentreng. Semua pemain tarawangsa adalah laki-laki, dengan usia rata-rata 50-60 tahun dan bekerja sebagai petani.

Pertunjukan tarawangsa biasanya melibatkan penari laki-laki dan perempuan. Mula-mula laki-laki menari disusul penari perempuan. Mereka bertugas "ngalungsurkeun" (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemudian penonton di sekitar tempat pertunjukan juga ikut menari.

Tarian tarawangsa tidak terikat oleh aturan pokok kecuali gerakan khusus yang dilakukan penari sebagi simbol penghormatan bagi dewi padi. Menari dalam kesenian Tarawangsa bukan hanya gerak fisik semata, melainkan juga berkaitan dengan hal-hal metafisik. Tidak heran, penari sering tidak sadarkan diri.

Kesenian tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yakni di Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Di Cibalong dan Cipatujah, tarawangsa dilengkapi dua perangkat calung rantay, suling, dan nyanyian.

Namun, tarawangsa kini terancam punah akibat masalah regenerasi. Pemain tarawangsa yang masih bertahan telah berusia lanjut, sedangkan generasi muda tidak tertarik dengan seni tersebut.(ERI/LITBANG KOMPAS)


Editor :