Padang, Kompas
Dugaan tersebut untuk sementara menyimpulkan bahwa peristiwa pembakaran tersebut terjadi di lima titik berbeda. ”Hasil dugaan sementara laboratorium forensik berdasarkan dari bukti-bukti petunjuk di tempat kejadian perkara begitu,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Ajun Komisaris Besar Kawedar ketika dikonfirmasi di Padang, Minggu (16/5).
Gubernur Sumbar Marlis Rahman pada hari yang sama mengatakan, jika memang Istana Silinduang Bulan dibakar secara sengaja, hal itu menjadi sesuatu yang sangat disesalkan.
”Kok tega-teganya ada yang membakar karena itu aset budaya Sumbar. Jika memang itu terbukti dibakar, tentu menjadi sesuatu yang sangat disesalkan, tetapi saya juga belum mengetahui hasil laporannya,” ujar Marlis.
Ia juga mengatakan, dirinya belum sempat berbicara dengan pihak keluarga pewaris takhta Kerajaan Pagaruyung terkait peristiwa itu.
Ia mengatakan agar peristiwa serupa tidak terulang lagi pada waktu mendatang, pengamanan di sekitar lokasi peninggalan budaya tersebut mesti lebih diperketat.
Kebakaran di Istana Silinduang Bulan terjadi pada 21 Maret lalu dan menghanguskan bangunan sekalipun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Selain Istana Silinduang Bulan yang digunakan untuk upacara kerajaan, Istana Pagaruyung yang biasanya digunakan untuk upacara pemberian gelar kehormatan dan gelar kebesaran juga sempat terbakar pada Februari 2007 setelah sempat terbakar pada tahun 1945.
Berdasarkan catatan
Istana Silinduang Bulan lantas dibangun ulang dengan sokongan ahli waris Kerajaan Pagaruyung dan diresmikan pada 23 Desember 1989.
Kebakaran pada 21 Maret lalu merupakan musibah keempat dan menghanguskan peralatan adat, perabotan rumah tangga, peralatan makan, dan sekitar 80 persen bangunan. Kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai belasan miliar rupiah.
