SURABAYA, KOMPAS.com - Upaya penyelamatan mata air di hulu Sungai Brantas mendesak dilakukan. Jika tahun 2007 lalu jumlah mata air mencapai 170 titik, tahun 2008 turun menjadi 111 titik mata air. Bahkan, jumlah mata air pada tahun 2009 menyusut hingga 46 buah.
Berdasarkan survei Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basar (Ecoton) di daerah Toyomerto, Gunung Arjuno dan Sumberdem, Gunung Kawi, beberapa sumber mata air mengecil, bahkan sebagian mati. "Sebanyak 11 sumber mata air yang terdapat di sekitar Kota Batu mengering. Sedangkan 46 mata air yang masih hidup turun debitnya dari 10 meter kubik per detik menjadi 5 meter kubik per detik," kata Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, Senin (22/3/2010) di Surabaya.
Selain matinya sebagian besar mata air Sungai Brantas, kualitas air di bagian hulu pun mulai tercemar. Dua sumber mata air di Gunung Kawi dan Argowayang tak tercemar, sedangkan empat sumber mata air lainnya, yaitu Gunung Anjasmoro, Kelud, Arjuno, dan Wilis terindikasi mengalami pencemaran.
Menurut Prigi, pencemaran Kali Brantas mengalami tingkat parah di bagian hilir dimana setiap hari masuk sekitar 330 ton limbah cair. Dari limbah tersebut, 63 persen di antaranya berasal dari limbah domestik dan 37 persen lainnya limbah industri. "Rusaknya kualitas air di Sungai Brantas sangat ironis karena 16 kabupaten/kota di wilayah daerah aliran Sungai Brantas setiap hari mengonsumsi 20 kubik per detik air yang terkontaminasi limbah. Ini harus menjadi keprihatinan bersama yang harus segera ditindaklanjuti," ujarnya.


