Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 15:27 WIB
Mensos Pantau Banjir di Karawang
| made | Senin, 22 Maret 2010 | 17:26 WIB
|
Share:

KARAWANG, KOMPAS.com - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Senin (22/3/2010), memantau lokasi pengungsian di gedung Juang 45 serta melihat kondisi banjir di beberapa titik sekitar Perumahan Karawang Indah, Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Kami memberikan bantuan kepada korban banjir berupa uang Rp 200 juta, selimut, dan bantuan logistik lainnya.
-- Mensos

Dalam pemantauan banjir di Perumahan Karawang Barat, Mensos bersama rombongan menaiki perahu karet untuk berkeliling ke beberapa titik daerah sekitar perumahan yang tergenang banjir. Setelah itu, langsung memberi bantuan kepada korban banjir, melalui pemerintah daerah setempat.

"Kami memberikan bantuan kepada korban banjir berupa uang Rp 200 juta, selimut, dan bantuan logistik lainnya. Itu adalah bagian cepat tanggap pemerintah, mudah-mudahan bantuan itu bisa membantu para korban banjir," kata Salim di sela pemantauan banjir di Karawang.

Dikatakannya, banjir akibat meluapnya Sungai Citarum di Karawang kali ini cukup besar. Karena itu, pemerintah daerah setempat bisa mengantisipasinya secara baik, dengan memberi bantuan yang merata kepada seluruh korban banjir.

Untuk saat ini, kata menteri, antisipasi yang harus dilakukan ialah dengan memberi bantuan kepada korban banjir. Sedangkan jangka panjang yang mesti dilakukan ialah dengan berkoodinasi antarinstitusi, duduk bersama untuk mencari solusi mengenai penanganan banjir.

Menurut Mensos, meskipun banjir yang terjadi di Karawang itu akibat meluapnya sungai Citarum, tetapi pada dasarnya bencana banjir tersebut lebih diakibatkan oleh tangan manusia dan akibat faktor alam.

Mensos menilai, Sungai Citarum meluap akibat bendungan Jatiluhur yang sudah tidak bisa menahan air, karena tingginya curah hujan di daerah Bandung dan sekitarnya.

Tindakan "mengalirkan" air ke sungai Citarum yang dilakukan Perusahaan Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur sudah tepat untuk mempertahankan kondisi bendungan. "Kalau air yang ada di waduk Jatiluhur tidak dialirkan sampai ke sungai Citarum, maka waduk Jatiluhur bisa jebol. Jadi dicari yang lebih ringan dampaknya," kata menteri.

Sumber :