Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 17:48 WIB
Hei... Ada Namaku di Pohon Itu!
Inggried Dwi Wedhaswary | hertanto | Senin, 22 Maret 2010 | 10:13 WIB
|
Share:

INGGRIED DWI W
Para adopter pohon menanam kembali pohon adopsiannya yang ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat

TERKAIT:

CIANJUR, KOMPAS.com — Wajah Nisrina terlihat berseri saat alat geo positioning system atau GPS berbunyi. Alarm alat itu menunjukkan, pohon investasinya sudah dekat. Tak lama, dia pun berteriak kegirangan.

Anak-anak memang terbiasa saya ajak ke gunung, wisata alam, lah. Saya enggak pernah ajak mereka ke mal

"Itu pohonku! Ada namaku di situ," kata Nisrina, bocah berusia 10 tahun, sambil memegang label nama yang tergantung di salah satu pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sarongge, Cianjur, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Nisrina, putri pegiat antikorupsi Teten Masduki, termasuk salah satu adopter pohon yang mengikuti program Adopsi Pohon, gagasan Green Radio bersama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Bersama keluarganya, Teten Masduki sudah mengadopsi puluhan pohon. Termasuk mendaftarkan Nisrina dan putri bungsunya, Allia Nurani Sartika (4), sebagai adopter.

Kedua bocah perempuan yang lincah itu pun tampak senang merambah kawasan Taman Nasional untuk menemukan pohon adopsiannya. Bersama sejumlah adopter lainnya, mereka menilik pohon-pohon yang telah diadopsi. Beberapa pohon ditemukan telah mati.

Akhirnya, para adopter pun menanam ulang pohon-pohon yang sebagian besar merupakan pohon suren. Pohon adopsi Nisrina dan keluarga Teten Masduki sudah lumayan tinggi. Pohon itu diadopsi sejak 2008.

Untuk mengadopsi, per pohon dikenai biaya Rp 108.000 selama masa adopsi tiga tahun. Biaya itu digunakan untuk biaya pemeliharaan dan pengadaan bibit tanaman pengganti jika kemudian ditemukan mati.

"Rasanya senang," jawab Nisrina singkat saat ditanya responsnya menemukan pohon adopsinya tumbuh subur.

Teten Masduki mengatakan, dia memang membiasakan kedua putrinya untuk dekat dengan alam. Maka tak heran, ketika diajak tracking naik turun gunung, keduanya terlihat sudah menguasai medan.

Mengikuti program adopsi pohon, diyakini Teten, bisa menumbuhkan kecintaan kedua putrinya terhadap alam.

"Anak-anak memang terbiasa saya ajak ke gunung, wisata alam, lah. Saya enggak pernah ajak mereka ke mal. Kalau lama enggak naik gunung, malah protes. Makanya, waktu diajak lihat pohon adopsinya, mereka senang sekali," kata Sekjen Transparency International Indonesia ini.

Program adopsi pohon bukan yang pertama kali diikuti Teten dan keluarga. Di kampung halamannya, Garut, Jawa Barat, Teten juga mengaku sudah menanam ribuan pohon.

"Program seperti ini bagus, untuk mengajak dan melibatkan semua pihak karena perbaikan hutan perlu perhatian semua. Dan, kita harus sadar bahwa banyak lahan perhutanan yang perlu dikonservasi," kata Teten.

Managing Director Green Radio Santoso mengungkapkan, selain Teten, sejumlah nama tenar, seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan artis Olga Lydia, juga telah menjadi adopter pohon di TN Gunung Gede Pangrango.

"Kami berharap bisa merangkul banyak kalangan, baik individu maupun perusahaan, untuk ikut menjadi adopter," ujarnya.

Program adopsi pohon ditargetkan bisa dilakukan di atas 22 hektar lahan perluasan taman nasional yang ada di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sebagian besar lahan saat ini dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan sehingga mengurangi daya resap yang menjadi salah satu fungsi hutan.