Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 19:40 WIB
Banjir, Petani Panen Menggunakan Perahu
Mukhamad Kurniawan | wsn | Senin, 22 Maret 2010 | 07:54 WIB
|
Share:
KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Petani memanen padi di sawahnya yang tergenang.

KARAWANG, KOMPAS.com - Belasan hektar padi siap panen di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tergenang banjir akibat luapan Sungai Citarum sejak Sabtu pekan lalu. Petani pun terpaksa panen dengan menggunakan perahu, rakit bambu, atau pelepah pisang.

Mereka mengaku rugi karena mutu dan harga gabah anjlok. Selain persawahan, banjir di sekitar aliran Citarum, hingga Senin (22/3/2010), masih menggenangi pemukiman yang tersebar di sedikitnya 8 desa/kelurahan di Kabupaten Karawang. Tiga desa di antaranya tergenang sejak Kamis pekan lalu.

Banjir antara lain melanda Desa Tegallega, Kecamatan Ciampel; Desa Teluk Jambe dan Wadas, Kecamatan Teluk Jambe Timur; serta Kelurahan Tanjungpura, Tanjungmekar, Adiarsa Barat, Karawang Kulon, Nagasari, Kecamatan Karawang Barat; sejumlah kelurahan di Kecamatan Karawang Timur; dan Kecamatan Batujaya.

Acih (38), petani asal Desa Curug, Kecamatan Klari mengaku memanen padinya lebih awal, yakni umur 90 hari dari idealnya 110 hari, karena khawatir padi semakin rusak. Banjir menggenangi sekitar 3.000 meter persegi sawahnya dengan ketinggian 40 sentimeter.

Sedikitnya lima hektar padi siap panen di sekitar sawah Desa Curug terendam banjir. Sawah-sawah itu berada di kanan kiri Sungai Citarum di antara Bendung Curug dan Bendung Walahar. Seingat saya Citarum tak pernah meluap setinggi ini lima tahun terakhir, kata Acih.

Selain itu, lebih dari empat hektar padi di Desa Mulyasari dan Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel, terendam banjir. Kadar air gabah naik hingga lebih dari 20 persen. Harganya anjlok menjadi Rp 2.000 per kilogram (kg) gabah kering panen (GKP).

Dengan produksi 5 ton per hektar dan harga jual Rp 2.000 per kg GKP, petani kehilangan potensi pendapatan sedikitnya Rp 2 juta per hektar. Sebab harga jual gabah di Karawang berkisar Rp 2.400-Rp 2.700 per kg GKP. Harga anjlok, kami pun harus bersusah payah memotong padi karena genangan air, ujar Acih.