LIWA, KOMPAS.com — Sebagian warga Kabupaten Lampung Barat mengembangkan usaha keripik rambutan dengan harga Rp 5.000-Rp 100.000 per bungkus.
"Saya mencoba mengembangkan keripik rambutan sebab, di Provinsi Lampung, baru Lampung Barat yang memproduksinya, dan ini menjadi hal baru," kata perajin keripik di Kecamatan Sekincau Lampung Barat, Sri Yuni, Minggu (21/3/2010).
Dia menjelaskan, usahanya berawal ketika dia melihat banyaknya rambutan yang tak habis terjual ketika sedang musimnya. "Saya melihat buah rambutan belum tergarap secara optimal. Saya mempunyai ide untuk mengembangkan usaha keripik. Memang proses membuatnya rumit," kata dia. Ia pun mengaku kesulitan memperoleh bahan baku ketika musim rambutan sedang tidak berlangsung. Ia juga mengalami kesulitan pemasaran karena warga belum terbiasa mengonsumsinya.
Di daerah tersebut terdapat sejumlah perajin dan hal itu umumnya untuk memenuhi pesanan. Setiap perajin membuat sekitar 40 bungkus per bulan, dan kendala utama mereka adalah pemasaran. "Kami berharap pemkab dapat membantu pemasaran dan modal sehingga usaha yang ditekuni dapat berkembang dengan pesat," kata dia.
Perajin keripik lain yang berada di Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat, Desi Susanti (33), mengatakan kendala yang serupa, yakni pemasaran dan pengemasan. "Keripik yang saya produksi terkendala promosi dan pemasaran. Terpenting adalah pengemasan. Saat ini produk yang saya kemas masih sangat sederhana sehingga tidak menimbulkan daya tarik konsumen," katanya.


