Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 03:08 WIB
Pembajakan Distro Kian Canggih, Konsumen Sulit Bedakan
Dwi Bayu Radius | Abi | Minggu, 21 Maret 2010 | 12:10 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Konsumen memilih kaus di distro Bloop, Tebet, Jakarta Selatan. (ilustrasi)

BANDUNG, KOMPAS.com -  Sebagian besar konsumen tidak dapat membedakan produk distro dan clothing asli dengan bajakan. Pembajakan produk distro kini semakin marak dan dilakukan dengan peralatan canggih. Produk itu selain beredar di toko juga dapat ditemukan di pedagang kaki lima.

Pemilik Distro Airplane dan Ralij Clothing, Fiki Chikara Satari di Bandung, Minggu (21 /3/2010), mengatakan, sekitar 80 persen konsumen tidak dapat membedakan produk distro asli dan bajakan. Konsumen yang menginginkan produk asli tidak mengetahui bahwa mereka membeli produk bajakan.

"Sebagian konsumen lain tidak peduli produk itu asli dan bajakan. Bagi mereka yang penting harganya murah," katanya.

Harga busana bajakan sudah sangat jauh daripada produk asli dengan selisih hingga 50 persen. Menurut Fiki, di Bandung saat ini terdapat sekitar 1.200 distro dan clothing. Jumlah pengunjung setiap distro sekitar 50-75 orang per hari.

Pembajakan dilakukan mulai skala kecil hingga usaha dengan produksi besar. Busana bajakan didistribusikan hingga ke kota-kota kecil atau berbagai daerah yang jauh dari pusat produksi. Pembajakan dapat dilakukan terhada p merek, produk, atau keduanya.  

"Pembajakan mulai marak sejak tahun 2002. Peredaran produk bajakan marak karena pasar tersedia, ada pesanan, dan banyak pelaku yang mengerjakannya," katanya.