Hari-hari biasa, perkampungan penganut kepercayaan animisme Merapu yang dipenuhi kubur batu itu sangat hening. Gemuruh deru ombak lamat-lamat terdengar saat terbawa tiupan angin di desa yang menghadap Samudra Hindia itu. Namun, sore itu, keheningan pecah oleh lengkingan bernuansa magis.
”Alalalalala… Uuu…. Alalalalalala… Uuuu…. Alalalalalala…. Uuu…,” teriak sejumlah wanita sambil menghampiri satu per satu batu kubur yang ada di perkampungan. Sembari mengunyah sirih dan pinang,
Pasola adalah permainan adu ketangkasan saling melempar lembing dari atas kuda yang dipacu kencang. Ini bukan pertandingan dan tidak ada yang menang atau kalah. Pasola lebih merupakan permainan melepas sukacita mensyukuri anugerah datangnya musim panen dan kumpul kerabat.
Kalau tidak tangkas dalam bermain Pasola, taruhannya adalah luka, bahkan nyawa. Meski lembing dari kayu lamtoro yang keras itu ujungnya tumpul, karena dilempar dengan kuat dari kuda yang berlari cepat, tetap sangat membahayakan lawan. Tak heran banyak orang tertarik menyaksikannya, termasuk turis asing.
Tahun ini, Pasola diselenggarakan di delapan desa adat. Tiga desa berada di Kabupaten Sumba Barat dan lima desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Pasola di Wainyapu adalah Pasola yang terakhir.
Selengkapnya baca di http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/20/03452252/pasola.mensyukuri.berkah.di.pulau.arwah
atau klik di berita terkait dengan judul sama
