DENPASAR, KOMPAS.com - Permukaan bumi di Bali yang gelap gulita dan didukung cuaca cerah, membuat gemerlap taburan bintang di langit Pulau Dewata pada malam Nyepi, Selasa (16/3/2010) terlihat begitu terang dengan sorotan dan kerlap-kerlip cahaya yang seolah berjarak dekat.
Dari berbagai koloni taburan ribuan bintang yang terlihat berukuran kecil hingga yang terpencar berukuran besar, seolah mampu menerangi pulau wisata internasional ini yang warganya dari kalangan umat Hindu sedang menjalankan Catur Brata Penyepian bertepatan datangnya tahun baru Saka 1932.
Sejak memasuki pergantian siang ke malam Nyepi itu, taburan bintang sudah mulai memperlihatkan cahayanya yang begitu terang, berbeda jauh pada hari lainnya saat daratan Pulau Dewata diterangi aneka lampu penerangan jalan, sorot papan iklan dan cahaya dari kawasan pemukiman.
Sekitar pukul 19.30 Wita, terlihat sorotan sejumlah cahaya dalam satu rangkaian mirip bintang yang terus bergerak dalam kecepatan sedang dari arah barat ke timur.
Setelah diamati lebih lama, tenyata cahaya lampu-lampu pesawat terbang yang melintasi langit Bali namun tanpa sedikitpun terdengar deru suaranya.
Sorot cahaya dari masing-masing lampu pada satu rangkaian penerang bagian bawah pesawat terbang itu terlihat sebanding dengan kekuatan cahaya bintang yang berpendar begitu terang dan terlihat berukuran besar.
"Kekuatan sorot cahaya dari taburan bintang pada malam Nyepi ini begitu luar biasa. Sampai terlihat sebanding dengan kekuatan cahaya dari lampu pesawat terbang yang entah berada dalam ketinggian berapa ribu kaki," komentar Nyoman Yasa warga kawasan Lapangan Lumintang, Denpasar.
Meski kekuatan sorot cahaya dan gemerlap taburan bintang itu begitu luar biasa, menurut sejumlah petugas keamanan adat atau pecalang yang siaga Nyepi di kawasan Jalan Gatot Subroto VI Denpasar, masih lebih terang pada malam Nyepi tahun lalu.
"Saat malam Nyepi tahun baru Saka 1931, langit begitu cerah, sementara kondisi permukaan bumi sangat gelap. Dalam kondisi antara langit dan bumi yang lebih kontras saat itu, cahaya dan gemerlap taburan bintang seolah benar-benar sampai ke permukaan bumi," ujar Paimin, pecalang dari kalangan umat Islam yang telah bertahun-tahun menetap di kawasan Gatsu VI H.
Saat memasuki Catur Brata Penyepian, yakni umat Hindu menjalankan empat larangan, tidak menyalakan api/lampu penerang, tidak bepergian, bekerja dan tidak bersenang-senang sejak Selasa pagi, langit di atas Bali sempat berulang kali diselimuti mendung, namun kemudian cerah kembali terkalahkan oleh sinar matahari.
Hal itu kemungkinan mempengaruhi kekuatan sorot cahaya dan gemerlap taburan ribuan bintang yang menghiasi langit pada malam Nyepi kali ini.


