Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 05:47 WIB
Kisah Pecalang saat Nyepi
Siaga 12 Jam, Imbalannya Cukup Sebungkus Nasi
Muhammad Hasanudin | wah | Selasa, 16 Maret 2010 | 17:09 WIB
|
Share:

Muhammad Hasanudin
Made Dana (Kanan) bersama rekannya sesama pecalang desa adat Kuta sedang melakukan patroli di kawasan kuta square saat hari raya Nyepi, Selasa (16/03/2010)

KOMPAS.com - Perayaan Nyepi di Bali selalu identik dengan sesosok pria berbadan tegap lengkap dengan pakaian adat Bali berwarna hitam. Jika warga biasa tidak boleh melakukan aktivitas di luar rumah, mereka justru dengan leluasa lalu lalang di jalanan.

Sosok yang cukup disegani di desa adat tersebut adalah pecalang, petugas keamanan adat yang selalu siaga mengamankan setiap kegiatan upacara keagamaan dan kegiatan adat di Bali. Di hari raya Nyepi ini mereka adalah garda terdepan untuk menjaga keamanan demi lancarnya ritual catur brata penyepian yang tengah dilakukan umat hindu.

"Kita bekerja sukarela, tanpa imbalan tanpa gaji," ujar Made Dana, seorang pecalang Desa adat Kuta. "Kita hanya dapat pakaian dan makan sekali saat mengamankan Nyepi," ujar bapak 2 anak ini yang sudah 12 tahun mengabdi sebagai pecalang. Made Dana harus bersiaga selama 12 jam mulai pukul 06.00 WITA pagi hingga 06.00 WITA sore untuk mengamankan catur brata penyepian warga kuta.

Meski harus meninggalkan keluarga di rumah saat hari raya, Made Dana tidak pernah mengeluh dan tetap menunjukkan loyalitas sebagai abdi desa. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, pria yang sehari-harinya bekerja sebagai keamanan di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kuta ini dengan berpatroli keliling desa dan bertemu rekan-rekannya sesame pecalang.