Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 17:52 WIB
Kelinci Kembung Obatnya Apa?
| Abi | Jumat, 12 Maret 2010 | 13:32 WIB
|
Share:

shutterstock

MAGELANG, KOMPAS.com — Hujan yang masih sering turun di kawasan lereng barat Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, membuat ternak kelinci milik warga setempat kembung.
     
"Banyak yang kembung, belum ada obatnya sehingga dua hingga tiga hari kelinci yang kembung itu mati," kata Seksi Kesehatan Kelompok Ternak Kelinci Sumber Makmur, Desa Sumber Rejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Taufik Efendi, di Magelang, Jumat (12/3/2010).
     
Ia mengatakan, kadar air sayuran untuk pakan kelinci cukup tinggi sehingga membuat kelinci kembung.
     
Seharusnya, kata dia, sayuran yang baru saja dipetik dari kebun setempat itu tidak langsung diberikan kepada kelinci, tetapi disimpan selama dua atau tiga hari untuk mengurangi kadar air. "Banyak peternak kelinci belum tahu cara itu, sedangkan obat kembung untuk kelinci hingga saat ini memang belum ada," katanya.
     
Kelompok itu hingga saat ini beranggota lebih kurang 80 peternak. Ia mengatakan, penyakit diare pada musim hujan juga sering menyerang kelinci, tetapi saat ini sudah ada obatnya.
     
Sayuran yang terlalu basah dan langsung dikonsumsi kelinci, katanya, membuat kelinci kembung dan diare. "Karena pencernaan kelinci tidak ada penyaring, makanan dengan kadar air yang tinggi langsung masuk ke lambung," katanya.
     
Ia mengaku memiliki lebih kurang 30 kelinci jenis Australia dan Flam. "Kelinci saya tidak ada yang mati hingga saat ini karena saya gunakan cara itu untuk mencegah kembung dan diare, tetapi sebagian peternak lain belum menerapkan cara tersebut," katanya.
     
Ketua Kelompok Ternak Kelinci Kecamatan Ngablak Sukarno mengatakan, sejak beberapa waktu terakhir, lebih kurang 25 dari total 200 kelincinya mati terserang penyakit itu.
     
"Cuaca berubah cepat dari hujan ke panas sejak beberapa hari terakhir, selain kembung dan diare, penyebab kematian kelinci saya juga karena stres oleh perubahan cuaca itu," katanya. Jumlah peternak kelinci di kawasan itu sekitar 400 orang dengan populasi sekitar 17.000 kelinci. Kelinci berumur empat hingga lima bulan siap untuk dikawinkan.
     
Hampir setiap hari, katanya, ada kelinci yang mati akibat musim hujan. Ia mengatakan, kawasan itu cocok untuk pengembangan ternak kelinci jenis Australia dan Flam, terutama karena didukung dengan budidaya hortikultura oleh petani setempat.
     
Kelinci mereka, katanya, dipasarkan di berbagai kota, antara lain, di Jawa, Bali, Kalimantan, dan Jambi. "Peluang ternak kelinci memang menjanjikan, tetapi risikonya biasanya kematian kelinci karena penyakit tersebut," katanya.
     
Hingga saat ini, peternak kelinci setempat belum bisa memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat. "Seperti yang dialami peternak di Sumber Rejo belum lama ini. Mereka pernah menerima permintaan bibit kelinci sebanyak 500 ekor per minggu, tetapi mereka hanya mampu memasok 70 hingga 100 ekor," katanya.

Sumber :
ANT