KOMPAS.com - Kabut tebal masih menyelimuti lereng Gunung Dempo di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Satu per satu perempuan paruh baya turun dari ojek sepeda motor yang membawa mereka dari kaki gunung.
Dengan bergegas, mereka menuju pohon penanda di salah satu blok perkebunan teh Pagar Alam, Selasa (16/2). Kerut di wajah yang tertutupi bedak tebal dan gincu merah tak mengurangi kegesitan dan keceriaan mereka.
Jalanan basah sisa hujan lebat malam sebelumnya tak menghalangi langkah mereka. Udara dingin dan gerimis yang turun tak mampu menahan mereka untuk tetap memetik teh pagi itu.
Segera mereka duduk jongkok bergerombol di pinggir jalan. Bungkusan plastik berisi bekal sarapan pagi pun dibuka. Sayur daun singkong, sambal goreng kentang dan tahu, serta kerupuk singkong menjadi pelengkap nasi porsi jumbo milik mereka.
Masakan itu telah mereka masak sejak pukul empat pagi. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, mereka baru menuju perkebunan sekitar pukul 06.30.
Beruntung ada salah satu rekan mereka yang baru selesai melaksanakan hajatan. Jadilah jadah (ketan) sebagai pencuci mulut sarapan mereka. Di sela-sela sarapan, sapa dan canda dalam bahasa Jawa meningkahi obrolan mereka. Walaupun lahir, tinggal, dan bekerja di pedalaman Sumatera, mereka masih fasih berbahasa Jawa.
Namun, saat ditanya asal mereka, mereka dengan tegas mengatakan orang Pagar Alam. Budaya dan tutur bahasa mereka memang Jawa sesuai yang diajarkan orang tua mereka. Rata-rata para pemetik itu adalah generasi kedua kuli perkebunan teh Pagar Alam yang didatangkan Belanda dari Jawa.
Penggunaan bahasa Jawa itu juga diteruskan kepada anak cucu mereka. Karena itu, tak mengherankan bila suasana di permukiman para pekerja perkebunan seperti permukiman di Jawa.
Sriatun (59), perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur, mengaku datang ke Pagar Alam pada 1965 mengikuti orangtuanya yang bekerja di perkebunan teh. Saat kontrak kerja selama lima tahun usai, pengerah tenaga kerja yang membawa mereka sudah pergi. Akhirnya, ia dan keluarganya menetap di Pagar Alam dan turun temurun menjadi pekerja perkebunan teh.
Lain pula dengan Tambeng (53). Meskipun fasih berbahasa Jawa, ia mengaku lahir di Pagar Alam. Kelima anaknya kini juga bekerja di perkebunan, baik sebagai pemetik teh maupun bekerja di pabrik.
Para pekerja asal Jawa-lah yang menjadi tulang punggung perkebunan. Menurut Partiyem (52), bekerja sebagai pemetik teh adalah satu-satunya pilihan mereka. Meskipun digaji hanya sekitar Rp 700.000 per bulan, mereka masih mendapat kemudahan-kemudahan lain dari perusahaan, seperti bantuan perumahan dan listrik.
Kini mekanisasi pemetikan teh telah membuat jumlah pemetik teh berkurang drastis. Sebelum mekanisasi pemetikan teh terdapat sekitar 1.000 orang pemetik. Kini, jumlahnya hanya sekitar 650 orang. Sebagian pemetik dialihkan ke kebun-kebun lain milik PT Perkebunan Nusantara VII di tempat lain.
Meskipun terancam, sulit bagi pekerja perkebunan yang merupakan warga perantauan Jawa untuk berpikir akan pulang ke Jawa bila tenaga mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Jiwa mereka telah menyatu dengan masyarakat dan kultur daerah tempat mereka berada saat ini.
”Sudah tidak ada saudara di Jawa. Semua ada di sini. Pulang ke Jawa juga sudah sangat jarang,” kata Sriatun. (MZW/WAD/BOY)
Bagaimana mereka beradaptasi? Ikuti cerita selengkapnya di kompas cetak.


