Wisnu Aji Dewabrata
KOMPAS.com - Sebagai urat nadi ekonomi masyarakat Sumsel, Sungai Musi berperan sebagai jalur transportasi yang sangat penting. Adapun daratan di tepi Sungai Musi juga subur sebagai areal perkebunan sawit.
Di sepanjang daerah aliran Sungai Musi, misalnya, terdapat areal perkebunan sawit luas yang tersebar di banyak lokasi.
Tanaman sawit terpantau mulai ditanam di daerah Tanjung Raya, Kabupaten Empat Lawang. Areal sawit terlihat lagi di sepanjang tepian Musi di Kabupaten Musi Rawas, Musi Banyuasin, sampai ke Kabupaten Banyuasin.
Novi (22), petani sawit asal Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas, mengatakan, melihat keberhasilan petani lain menanam sawit, dua tahun ini ia dan suaminya, Tarmizi (30), tertarik ikut menanam sawit.
Di desa itu memang banyak petani sawit, dengan kepemilikan lahan bervariasi, minimal 2 hektar per satu petani. ”Kami diberi ayah lahan, lalu kami tanami sawit,” ujar Novi.
Hanya saja, sawit ditanam tanpa memerhatikan aspek konservasi atau pelestarian tanah. Di bawah pohon sawit, tanah terlihat bersih tanpa tanaman penutup. Pohon-pohon besar dengan akarnya yang kukuh sudah ditebang untuk ditanami sawit. Akibatnya adalah erosi besar-besaran karena akar sawit tidak mampu menahan erosi.
Pengamat dari Balai Besar Sungai Wilayah Sumatera VIII, Mawardi, menyatakan, salah satu penyebab banjir adalah pembukaan perkebunan sawit semakin membuat sungai meluap pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Tanaman sawit menurut Mawardi tidak mampu menahan air.
Saat Musi meluap pada musim hujan seperti sekarang, selain membuat tanaman sawit terendam, juga banyak sampah dari perkebunan yang masuk dan ikut terbawa aliran sungai.
Sampah itu berupa pelepah sawit, bonggol atau batang sawit yang lapuk, kayu pohon yang tua, hingga tanah. Sampah itu terbawa aliran sungai mulai dari Empat Lawang sampai dengan muara Sungai Musi di Selat Bangka, dan amat berbahaya bagi pelayaran sungai.
Taufik (35), juru mudi perahu ketek di Sungai Musi di kawasan Banyuasin, mengatakan, akibat banyaknya sampah-sampah kayu, batang-batang pohon, dan pelepah-pelepah, ia harus sangat berhati-hati menjalankan ketek. Ia harus waspada dan memerhatikan sampah tersebut mengalir ke arah mana supaya ketek tidak terjebak atau tertabrak sampah.
Jalan rusak
Sementara di darat, keberadaan perkebunan sawit juga menyumbang kerusakan jalan yang cukup parah. Kerusakan terjadi di jalan penghubung lintas tengah dan lintas timur di wilayah Sekayu, Musi Banyuasin, hingga Betung di Banyuasin.
Jalanan yang sempit banyak dilalui truk tangki pengangkut minyak sawit dan truk besar pengangkut buah sawit. Jalan yang kondisinya labil karena dibangun melintas rawa-rawa cepat rusak.
Di ruas sepanjang 60 kilometer tersebut, lubang-lubang berdiameter lebih dari 1 meter dengan kedalaman 30 sentimeter menghiasi badan jalan. Para pemilik kebun atau pengusaha sawit sepertinya memilih cara tergampang, memanfaatkan jalur jalan yang sudah ada dan tidak mau direpotkan untuk membangun jalan baru. Saat jalan rusak, lalu lintas terganggu.
Wahyudi (31), sopir mobil pribadi yang ditemui di Sekayu saat hendak menuju Palembang, mengatakan, akhir-akhir ini perjalanan menjadi tidak nyaman karena banyaknya truk sawit yang melintas.
Menurut dia, pembangunan perkebunan sawit boleh saja dilakukan. Namun, pemerintah mengharuskan pemilik perkebunan membangun jalan khusus untuk mengangkut hasil perkebunan.
Dilema sawit
Petani sawit di Kabupaten Banyuasin mengaku keuntungan dari menanam sawit lebih kecil daripada karet. Persoalan itu berawal dari rendahnya mutu bibit sawit yang ditanam petani sehingga hasil panennya jelek. Bibit sawit bermutu dikuasai perusahaan, sedangkan petani tidak mampu membeli karena mahal.
Marsan, petani sawit di Desa Lubuk Karet, Kecamatan Betung, Banyuasin, menuturkan, petani hanya bisa mendapatkan bibit sawit kualitas kaki lima yang menghasilkan buah kecil-kecil.
”Saya heran, kenapa pemerintah tidak melarang penjualan bibit sawit kualitas kaki lima,” kata Marsan.
Cerita selengkapnya bisa dibaca di kompas cetak. (HLN/RYO/MZW/BOY/JAN/MUL)
