Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:26 WIB
Polisi Ambil DNA Keluarga Dulmatin Dua Tahun Lalu
Siwi Nurbiajanti | mbonk | Rabu, 10 Maret 2010 | 14:44 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak kepolisian sudah pernah mengambil sampel DNA keluarga Joko Pitono alias Dulmatin dua tahun lalu. Kala itu, yang diambil sampelnya adalah Ibu Dulmatin, Masniyati, dan kakak tertua, Azzam Baabud. ”Dua tahun lalu polisi pernah minta tes DNA,” ujar Jazuli (57), ayah tiri Dulmatin, di Pemalang, Rabu (10/3/2010).

Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, dalam keterangan pers di Mabes Polri siang ini, mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan tim forensik Kedokteran Polri dapat dipastikan bahwa salah satu dari tiga anggota teroris yang tewas di Pamulang adalah buronan paling dicari, yaitu Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Mansyur alias Joko Pitono.

”100 persen dengan tingkat kekeliruan satu banding 100.000 triliun ini adalah betul bisa dipertanggungjawabkan secara profesional bahwa yang bersangkutan adalah Dulmatin,” ucap Kapolri.

Dari Pemalang dikabarkan, pihak keluarga Joko Pitono alias Dulmatin hingga saat ini belum mendapat pemberitahuan resmi dari pihak kepolisian perihal tewasnya Dulmatin. ”Kami belum diberi tahu apa-apa oleh polisi,” kata Jazuli.

Siang ini, keluarga besar Dulmatin berkumpul di rumah Ibu Dulmatin, Masniyati, di utara Pasar Petarukan, Kabupaten Pemalang, nonton bareng jumpa pers Kapolri mengenai penangkapan teroris yang disiarkan salah satu stasiun televisi.

Namun, di antara sanak famili yang berkumpul, tidak terlihat Ibu Dulmatin, Masniyati. ”Ibu Masniyati tidak berada di sini. Ia sedang ikut salah seorang anaknya yang lain,” kata salah seorang anggota keluarga tanpa menyebutkan di mana Masniyati tinggal.

Mereka menanti kepastian apakah salah seorang terduga teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Pamulang, Tangerang, Selasa (9/3/2010), adalah Dulmatin, keluarga mereka.

Seperti diberitakan, pasukan Densus 88 melakukan penyergapan di dua tempat di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (9/3/2010). Tiga terduga teroris tewas dalam penggerebekan itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan Parlemen Australia menyebutkan, salah seorang yang tewas adalah Dulmatin, teroris paling dicari di Asia Tenggara. Dulmatin adalah salah seorang auktor intelektualis bom Bali dan sejumlah aksi teror lainnya.