KULON PROGO, KOMPAS - Dua pekan terakhir, nelayan pesisir selatan Kulon Progo, DI Yogyakarta, tidak melaut karena sampah. Kumpulan sampah dari aliran sungai merusak jala dan mesin kapal sehingga merugikan nelayan.
Pencemaran itu terjadi sejak akhir Februari lalu. Sungai membawa sampah dari daratan sebelum mengendap di dasar muara sungai, lalu naik ke permukaan laut terdorong arus bawah.
"Sampah dari Sungai Progo bisa menyangkut di baling-baling perahu yang hendak bergerak ke tengah laut. Perahu macet dan rusak. Kami pun gagal melaut," kata nelayan Pantai Bugel, Rohjulin (40), Selasa (9/3).
Kemarin tak satu pun nelayan di Pantai Trisik dan Bugel, Panjatan, melaut. Demikian pula di Pantai Congot, Temon. Sekitar 20 perahu di Congot parkir di tepi pantai. Di Pantai Karangwuni dan Glagah, dua dari 15 nelayan nekat melaut.
Menurut Sularjo, nelayan Pantai Karangwuni, Wates, sampah dari Sungai Serang kadang terbawa ke laut dan menyangkut di jala nelayan. Nelayan kerap mendapat sampah dan merugi akibat jala koyak.
Untuk memperbaiki baling-baling mesin, nelayan butuh biaya Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Untuk beli jala baru butuh biaya Rp 150.000.
"Kalau tiap hari harus ganti jala dan memperbaiki baling-baling, tidak ada untungnya. Justru tombok karena tangkapan sedang turun," ujar Sularjo.
Bulan tiga dan empat, diakui nelayan, memang bukan waktu baik untuk menjaring ikan di laut. Suradi (38), nelayan di Pantai Congot, mengatakan, hasil tangkapan bulan ini turun drastis dibandingkan bulan lain. Biasanya, tangkapannya 5 kuintal per hari, tetapi kali ini di bawah 1 kuintal per hari.
Bertanam lagi
Menyiasati cuaca, sejumlah nelayan menjadi petani lahan pasir. Mereka menanami pantai dengan sayur-sayuran, seperti sawi dan kacang panjang karena cepat panen.
Nelayan berharap masyarakat di hulu dan tepi sungai peduli kebersihan. Sampah berdampak buruk bagi warga pantai dan muara. Selain merugikan nelayan, sampah merugikan pelaku pariwisata.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kulon Progo Bambang Pidegso mengaku sulit menjaga kebersihan laut dan pantai. Dinas hanya memiliki 9 tenaga pembersih pantai yakni 3 orang di Pantai Trisik, 5 orang di Pantai Glagah, dan 1 orang di Pantai Congot. Penambahan tenaga tak bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran. (YOP)
