Kamis, 2 Oktober 2014

News / Regional

Pemburu Ilmu Kebal (2)

Pemulung Ini Belajar Ilmu Terbang

Selasa, 9 Maret 2010 | 09:20 WIB

KOMPAS.com — Harun, pria asal Kendal, Jawa Tengah, ini tiba di Batam pada 2004. Lima tahun kemudian, ia mengenal Fahmi yang juga sebagai pemulung. Ketertarikannya untuk mempelajari ilmu hitam sudah diawalinya pada saat masih berada di kampungnya.

Harun sangat ingin menguasai ilmu kebal dan bisa membaca isi hati orang. Dari buku yang ia pelajari, ia akan mendapatkan ilmu kalau sudah memakan organ manusia. Harun juga mempelajari ilmu kelelawar yang bisa membuatnya terbang.

Harun semakin penasaran setelah tinggal bersama korban empat bulan di perumahan Legenda Malaka karena korban menceritakan kepadanya memiliki ilmu kebal dan bisa hidup lagi setelah empat bulan dikubur dalam tanah. Keinginannya timbul untuk membunuh Fahmi setelah mendapatkan bisikan gaib.

”Saat membunuh Fahmi, saya pura-pura membawanya ke lapangan untuk mengintip orang pacaran. Fahmi saya suruh jalan duluan. Setelah sampai di lapangan, langsung saya pukul kepalanya pakai balok sebanyak empat kali dari belakang,” ujar Harun.

Setelah ditarik ke dekat peti, ia membelah dada Fahmi menggunakan pisau. ”Saat itu juga jantung, hati, dan ususnya saya makan mentah-mentah. Baru setelah itu daging kakinya saya bakar dengan kemenyan setiap malam Jumat karena itu syaratnya dari bisikan makhluk gaib yang saya terima,” ujar Harun.

Kapolsek Batam Kota Ajun Komisaris Suka Irawanto mengatakan, tersangka sempat kabur saat akan dibawa ke polsek. Bahkan, Harun akan mempraktikkan ilmu kelelawarnya untuk kabur. Ia mengepak-kepakkan tangannya seperti kelelawar mengepakkan sayap saat akan terbang. ”Karena tidak kunjung bisa terbang, tersangka berhasil dibekuk,” ujar Suka.

Suka mengatakan, saat penemuan mayat itu, hanya Harun yang tidak ada ketika itu. Sebab, setelah melakukan pembunuhan, ia pindah tempat tinggal ke daerah Ruli depan SMP 12. Namun, setiap malam Jumat ia datang untuk melakukan meditasi dan membakar daging kaki mayat itu dengan campuran kemenyan dekat peti mayat tersebut.

Sehari setelah penemuan mayat itu, tersangka datang karena dipanggil oleh warga sekitar. Awalnya, tersangka mengaku tidak mengetahui siapa identitas mayat tersebut. ”Dari pagi saya bujuk dia supaya menceritakan siapa sebenarnya identitas mayat tersebut, tersangka tetap mengaku tidak tahu. Namun, setelah saya melakukan pendekatan dan berbicara dari hati ke hati dalam kamar rumah tempat tinggalnya itu, baru tersangka mulai berbicara,” ujarnya.

Awalnya, Harun mengaku menemukan mayat tersebut dua minggu sebelumnya. Namun, karena takut menjadi saksi nantinya, tersangka mengaku lebih baik diam saja. Menurut Suka, karena tersangka sudah mulai agak terbuka, dia sengaja membiarkan Harun jalan-jalan di sekitar TKP.

”Saya sengaja tidak memperbolehkan anggota memegang tersangka saat itu, tetapi saya hanya perintahkan untuk mengawasinya. Itu trik saya supaya dia kabur saat akan dibawa ke kantor polisi. Saat kami cuekin itulah dia berusaha kabur. Saat dia kabur itulah saya langsung mengejarnya. Pertama kabur itu larinya sangat kencang, baru saat dia akan mempraktikkan ilmu kelelawarnya akan terbang, larinya mulai lambat dan langsung saya tangkap lehernya,” ungkap Suka. (Tribunjabar/Warta Kota/tribun batam)


Editor : Abi
Sumber: