Garut, Kompas - Pemerintah akan mengembangkan sektor perikanan Kabupaten Garut dengan konsep minapolitan untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan. Program ini didukung Kementerian Perikanan dan Kelautan dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut Tati Karyati, Jumat (5/3), mengatakan, program minapolitan adalah pengembangan sektor perikanan terpadu dengan kegiatan usaha mencakup budidaya hingga pengolahan dengan pendekatan kawasan. Di Garut program ini dilakukan di Kecamatan Sukawening dan Karangpawitan.
Menurut Tati, tahapan program pada semester pertama tahun ini berupa perencanaan kawasan. Pembangunan fisik dilakukan pada semester kedua. "Dana program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan belum turun, sedangkan dari Kementerian Pekerjaan Umum katanya sudah ada Rp 2 miliar," kata Tati.
Beberapa hal yang akan dibenahi di awal program ialah perbaikan saluran irigasi ke kolam masyarakat, dilanjutkan rehabilitasi jalan akses menuju sentra produksi perikanan.
Tati menerangkan, komoditas yang dianjurkan Kementerian Perikanan dan Kelautan di Garut ialah udang galah. Nantinya pembudidaya di Karangpawitan diarahkan pada usaha pembibitan, yang menyokong usaha pembesaran udang galah di Sukawening.
Selama ini, ujar Tati, masyarakat di Sukawening terbiasa membudidayakan ikan secara polikultur. Ikan yang biasa dibudidayakan ialah nila, mas, lele, dan hias. Hanya sedikit yang membudidayakan udang galah.
Udang galah
Data menunjukkan, produksi udang galah di Garut sebenarnya minim. Pada 2008, misalnya, produksi udang galah di Garut hanya 13 ton. Komoditas budidaya yang dominan justru ikan mas (5.319 ton), nila (4.432 ton), dan nilem (3.554 ton).
Kepala Biro Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Barat Muhamad Husen mengingatkan, jangan sampai program bagus seperti minapolitan dipandang proyek semata. Jika komoditas yang akan dibudidayakan adalah udang galah, sarana produksi dan faktor pendukungnya harus disiapkan. Misalnya, dari mana benur atau benih udang diperoleh, sejauh mana saluran irigasi berfungsi, dan bagaimana kondisi jalan di kawasan itu.
Tati mengakui, selama ini penyediaan benur masih bergantung pada Balai Pengembangan Benih Ikan Laut, Air Payau, dan Udang Pangandaran dan Balai Benih Udang Galah Ciamis. Untuk mengurangi ketergantungan ini, ujar Tati, bukan tidak mungkin Garut membangun sendiri unit pembenihan udang galah. (adh)
