Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:10 WIB
Upacara Keagamaan
Melasti, Sucikan Diri dan Alam
| Senin, 1 Maret 2010 | 11:49 WIB
|
Share:

GUNUNG KIDUL, KOMPAS - Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1932 Saka, penganut agama Hindu di Kabupaten Gunung Kidul mengadakan upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Minggu (28/2). Upacara diikuti sekitar 2.000 orang dengan tujuan menyucikan alam dan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian.

Pemeluk Hindu yang mayoritas tinggal di Kecamatan Playen dan Sapto Sari datang ke Pantai Ngobaran sejak pagi. Rombongan yang datang dari pura-pura di Gunung Kidul membawa gunungan berisi aneka hasil bumi. Upacara dihadiri Bupati Gunung Kidul Suharto dan pemeluk Hindu dari wilayah DIY dan sekitarnya.

Persembahyangan dalam upacara Melasti ini dilakukan di dua lokasi. Upacara Dewa Yadnya atau persembahan suci kepada Sang Pencipta di Pura Segara Wukir dan upacara Bhuta Yadnya atau persembahan kepada bhuta kala di Paseban Segoro Wukir yang dipercaya sebagai lokasi tapa brata raja terakhir Majapahit Prabu Brawijaya. Kedua lokasi sembahyang terletak berdekatan di bibir pantai Ngobaran.

Ketua Umum Panitia Pelaksana Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932 Kabupaten Gunung Kidul I Wayan Wirata mengatakan, melasti merupakan wujud penyelarasan diri dengan alam semesta yang tertuang dalam konsep Tri Hita Karana. Dalam ajaran tersebut, keselarasan alam akan terwujud jika manusia menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

"Sebelum upacara ini berlangsung, kami menanam 1.000 pohon jati dan cemara udang di sejumlah lokasi," ujar I Wayan.

Upacara Melasti dimulai pukul 12.00. Usai persembahyangan, benda- benda suci di lingkungan pura dibawa ke pantai untuk dibersihkan dengan air laut bersama aneka sesaji yang dilarung ke laut. Air laut dianggap sebagai air abadi yang bisa menyucikan diri dan alam semesta.

Retribusi

Mengambil lokasi di Pantai Selatan yang elok sebagai daerah kunjungan wisata, upacara Melasti ini sempat terhambat masalah retribusi. Ketua Pelaksana Upacara Melasti Chandra Saputra menuturkan, pihaknya sempat kesulitan meminta dispensasi pembebasan biaya retribusi bagi pengunjung kawasan pantai selama pelaksanaan upacara kepada Dinas Pariwisata Gunung Kidul.

Meski akhirnya mendapat surat dispensasi, petugas di pos retribusi masih meminta sejumlah pengunjung membayar. Panitia yang keluar- masuk lokasi untuk menyiapkan keperluan upacara pun harus bersitegang dengan petugas pemungut retribusi. (ARA)