Sleman, Kompas - Hingga Minggu (28/2) malam, 17 truk pasir masih terjebak di Kali Gendol karena jalurnya tertimbun tanah longsoran tebing. Eskavator yang diterjunkan pihak desa belum selesai membersihkan jalur itu dari tanah. Ada kemungkinan akan dibuat jalur baru jika tetap sulit melapangkan jalur tersebut.
Truk-truk pasir itu terjebak di Kali Gendol ketika Sabtu sore dinding tanah tebing longsor. Longsoran sepanjang hampir 100 meter di sepanjang tebing sisi timur ada di wilayah Dusun Serunen, Glagaharjo, Cangkringan. Longsoran tanah dari ketinggian puluhan meter itu langsung menutup jalur truk.
Satu alat berat, yaitu eskavator, sudah diterjunkan sejak Minggu pagi. Karena jalan tanah berbatu, eskavator tak bisa bergerak cepat. "Jika hari ini (Minggu) masih tak selesai, kami harapkan Senin selesai," ujar Suroto, Kepala Desa Glagaharjo.
Eskavator disewa secara swadaya oleh Desa Glahagharjo dan Kepuharjo, dua desa yang wilayahnya menjadi area penambangan pasir. Suroto menuturkan, sewa per jam alat berat ini Rp 300.000. Sesudah jalur truk terbebas dari longsoran tanah, dua desa ini akan bertemu dengan para penambang agar ikut membantu biaya sewa eskavator.
Amin (45), penambang yang truknya terjebak dan tak bisa keluar Kali Gendol, mengatakan, saat kejadian, ia sedang berjalan menuju truk, bersiap hendak pulang ke Klaten, Jawa Tengah. "Tiba-tiba ada suara gemuruh dari tebing di timur ini. Tanah lalu jatuh. Untung tidak kena truk dan para penambang," ujarnya.
Puluhan penambang dan sopir, yang truknya terjebak, duduk-duduk menunggu. Namun, di ruas Kali Gendol lain, di sebelah selatan area longsor, aktivitas penambangan tak berhenti, walaupun berkurang. Secara terpisah, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Kesatuan Bangsa Perlindungan Masyarakat Dinas Energi dan Sumber Daya Alam Sleman Taufik Wahyudi mengatakan, tanah di tebing Kali Gendol memang labil karena berpasir. Selain itu, tanaman vegetasi pelindung dinding tebing yang kemiringannya hampir tegak lurus ini hanya rumput dan pohon kecil.
"Sebelum longsor, tak ada hujan. Di sekitarnya juga tak ada penggalian. Kami menduga longsor terjadi karena tanah yang labil mengalami akumulasi getaran dari truk-truk yang hilir mudik," ujar Taufik. (PRA)
