Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:05 WIB
Sampah Budaya di Pantura
| Sabtu, 27 Februari 2010 | 05:15 WIB
|
Share:

Cirebon, Kompas - Wilayah pantai utara di Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, tidak hanya kaya sumber daya alam, kesenian, dan tradisi, tetapi juga kaya dengan berbagai persoalan, termasuk kemiskinan. Pemahaman yang salah terhadap pesan leluhur menimbulkan sampah budaya.

Dalam Diskusi Budaya Pesisir yang diselenggarakan oleh Kompas dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Kamis (25/2) di Aula Rektorat IAIN, Cirebon, mengemuka, wilayah pantai utara (pantura) Cirebon- Indramayu yang terbentang sepanjang 173 kilometer kaya akan sumber daya laut berupa ikan dan udang.

Pelabuhan Muara Jati (sekarang Pelabuhan Cirebon) dari abad ke abad menjadikan wilayah ini strategis untuk perdagangan dan jasa. Para nelayan yang juga pelaut ulung piawai menyesuaikan dengan alam.

Dari sisi budaya dan kesenian, dua kerajaan dan satu pedepokan di Cirebon menjadi kekayaan budaya warga pesisir. ”Ini kekayaan Cirebon yang tidak ada di kota lain di Jawa Barat,” kata Abidin Aslich, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.

Di sisi lain, berbagai persoalan sosial dan budaya juga menumpuk. Budayawan Supali Kasim menyebutkan, sebesar 95 persen dari 480.000 nelayan di Indramayu tergolong miskin. Mereka bergantung kepada tengkulak dan pada musim angin mereka tidak bisa melaut.

Menurut Prof Dr Abdullah Ali, antropolog dan sosiolog Cirebon, masyarakat pesisir identik dengan nasi aking dan budaya tawurji (menunggu uang receh) alias mengemis. Ini merupakan persoalan yang sulit dihilangkan di pantura.

Budayawan Cirebon, Nurdin M Noer, menuturkan, ada pemahaman yang salah mengenai pesan Sunan Gunung Jati yang berbunyi, ”Ingsun titip tajug lan fakir miskin” (saya titip masjid dan fa- kir miskin), yang selama ini dihayati masyarakat Cirebon. Hal ini menimbulkan budaya meminta- minta di makam Sunan Gunung Jati dan di jalan-jalan. Pesan yang bermakna emas justru dibelokkan menjadi sampah budaya.

Pemberdayaan

Ratu Raja Arimbi Nurtina, Sekretaris Keraton Kanoman Cirebon, berpendapat, perlu ada pelurusan dalam mengartikan wasiat leluhur. Sunan Gunung Jati tidak pernah melegitimasi kemiskinan.

Menurut Arimbi, pesan itu bermakna menitipkan syiar agama dan mengangkat kehidupan fakir miskin. ”Jadi, jangan diartikan secara fisik,” katanya.

Abdullah Ali menyatakan, perlu ada gerakan yang bisa memberdayakan dan membangkitkan ekonomi rakyat agar mereka bisa mendapat penghasilan meski kondisi alam buruk. Sistem pemasaran yang baik harus dipikirkan untuk kesejahteraan nelayan dan petani. Strategi Sunan Gunung Jati dalam membangkitkan ekonomi masyarakat bisa dijadikan contoh.

Menurut Ali, Sunan Gunung Jati selalu memilih pesisir untuk berdakwah karena pada saat ia berdakwah, ribuan orang akan datang. Di pesisir, para nelayan bisa menjual hasil laut, petani bisa datang menjual hasil bumi.

”Sekarang bisa diterapkan, misalnya, pasar khusus untuk mereka yang didukung pemerintah dan pihak lain,” kata Ali.(NIT/THT)