Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 14:03 WIB
Soal Plagiat, Masyarakat Harus Introspeksi
Yulvianus Harjono | made | Selasa, 9 Februari 2010 | 22:58 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Koordinator Administrasi Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (PPHKI) Ansori Sinungan menempel poster kampanye penolakan terhadap berbagai bentuk pembajakan perangkat lunak komputer di pusat perbelanjaan Mangga Dua, Jakarta, Selasa (6/10). Kampanye tersebut dimaksudkan agar masyarakat lebih menghormati dan memerhatikan HKI.

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia juga harus introspeksi diri terkait soal plagiarisme. Jangan sampai kita juga munafik, ramai-ramai menyalahkan mereka yang berbuat plagiat, sementara diri sendiri tidak merasa malu berbuat hal yang sama.

Kita di Indonesia kan punya standar ganda melihat plagiat dan pembajakan.

"Kita di Indonesia kan punya standar ganda melihat ini (plagiat dan pembajakan). Suka marah kalau banyak karya kita seperti batik diplagiat orang, sementara kita sendiri banyak membajak karya (cipta) orang luar," tutur Rektor Unpar Cecilai Lau, Selasa (9/2/2010), di Bandung.

Maraknya pembajakan hak cita, baik buku, film, dan musik mencerminkan masih tingginya standar ganda ini di kalangan masyarakat.

Menurut Cecilia, masyarakat kita membutuhkan pendidikan etika yang baik. "Itu jika ingin kita menjadi bangsa yang besar, tidak hanya dalam dunia akademik melainkan juga di bidang sosial, politik, budaya dan sebagainya," katanya.