ENDE, KOMPAS.com - Pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Cabang Ende mengeluhkan keberadaan Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur senilai Rp 21 miliar.
Posisi dermaga yang dikelola oleh Dinas Perhubungan NTT itu dinilai amat membahayakan bagi proses debarkasi dan embarkasi penumpang, barang, maupun kendaraan, lantaran goncangan feri saat bersandar amat keras akibat hempasan alun.
"Posisi dermaga Nangakeo tidak aman. Yang kami khawatirkan kalau kendaraan penumpang rusak karena benturan dengan bodi kapal, atau penumpang terluka karena terjatuh akibat goyangan keras. Siapa yang harus bertanggung jawab? Sementara hal itu disebabkan oleh faktor alam karena posisi dermaga kurang tepat," kata Supervisi PT ASDP Cabang Ende, Ebas A Syarif, Senin (8/2/2010), di Ende.
Pelabuhan penyeberangan itu padahal baru saja diresmikan 2 tahun lalu dengan biaya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ebas mengharapkan, dermaga tersebut diubah posisinya, tak lagi searah dengan garis atau bibir pantai yang mengarah ke sebelah timur, melainkan ujung dermaga menghadap ke selatan. Pasalnya tiupan angin dan gelombang di perairan setempat amat ganas.
"Dengan posisi dermaga menghadap ke timur (menyamping), ketika dihempas alun goyangan feri terasa keras, sehingga feri akan terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Namun apabila posisi dermaga dibangun menghadap ke selatan (laut lepas), meski alun besar, gerakan feri hanya ke atas dan bawah, seperti kepala yang mengangguk-angguk," katanya.
Kepala Dinas Perhubungan NTT, Gulam Husain di Kupang ketika dikonfirmasi menyatakan belum mengetahui persoalan dermaga Nangakeo itu.
"Saya belum mengetahui persoalan itu, saya malah baru dengar saat ini dari wartawan. Karena sejak perencanaan pembangunan dermaga tersebut sudah melalui perhitungan yang matang. Dan sampai saat ini saya juga belum mendapat laporan resmi dari pihak PT ASDP Cabang Ende. Kalau memang ada usulan dermaga direnovasi, mestinya ada laporan tertulis, sehingga nanti kami dapat menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan pengkajian, apakah memang perlu dermaga dibongkar atau tidak," tambah Gulam.


