TRIBUN KALTIM/ ABDUH KUDDU
Christian sesaat sebelum meninggal dunia
BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Christian Oei Sanjaya, bayi berusia 2,5 tahun yang mengidap penyakit serupa Bilqis, akhirnya meninggal dunia, Minggu (7/2/2010) sekitar pukul 16.00 di ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU) RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan.
Menurut keterangan dr Tonny Hartanto SpA yang menangani, Christian meninggal karena pembengkakan dan pengerasan liver (sirosis hepatis) dan infeksi berat (sepsis). "Sirosis itu mengakibatkan timbunan cairan di mana-mana. Kemudian juga ditambah sepsis-nya. Karena (tubuhnya) sudah tidak kuat lagi, akhirnya Christian meninggal," ujar Tonny. Sebelum meninggal, pada sebagian tubuh Christian muncul bintik-bintik hitam dan batuk disertai darah yang keluar dari mulutnya.
Christian masuk rumah sakit sejak Sabtu (23/1/2010) malam karena demam. Bahkan, suhu badannya saat itu mencapai 40 derajat Celsius. Namun, ia baru ditempatkan di ruang NICU pada 26 Januari hingga akhirnya meninggal dunia kemarin. "Apa yang kami lakukan sifatnya hanya supporting saja. Seperti bila darahnya kurang atau Hb (hemoglobin) turun, ya kami tambah, tapi tidak menyelesaikan masalah pada livernya," ujar Tonny.
Menurut dia, penyakit Christian sebenarnya sudah diketahui sejak tahun 2008 saat usianya masih beberapa bulan. Sadar akan kemampuan yang terbatas, ia lalu merujuk Christian untuk berobat ke Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya karena peralatan dan kemampuan di sana lebih baik. Akan tetapi, pihak keluarga malah membawa pulang untuk berobat di Balikpapan. Kata Tonny, sejak usia beberapa bulan hingga akhirnya meninggal, Christian sering bolak-balik masuk rumah sakit.
"Sepulang dari Surabaya, kondisinya juga tidak membaik. Sampai akhirnya terjadi sirosis itu. Kalau sudah begitu ya yang paling memungkinkan transplantasi liver, tapi di Indonesia belum mampu. Baru di China yang mampu melakukan," kata Tonny. Apabila Christian dibawa ke China, hal itu juga tidak memungkinkan mengingat kondisinya yang sudah parah. Satu-satunya dengan mendatangkan dokter dari China ke Indonesia.
Namun, cara itu pun membutuhkan biaya yang besar. Belum lagi harus dicari donor yang livernya bisa diterima oleh tubuh Christian. Meski donor berasal dari keluarga yang golongan darahnya sama, hal itu belum menjamin operasi berhasil. "Karena belum tentu diterima oleh tubuh Christian," katanya.
Sakit Christian ini sama dengan yang diderita Bilqis, bayi berusia 17 bulan dari Semarang. Hanya saja, bedanya, Bilqis mengalami sirosis hepatis diawali karena memiliki kelainan sejak lahir yang tidak memiliki saluran empedu (atrea biliaris). Sementara Christian karena terserang virus cito megalo virus (CMV).
Karena biaya berobat yang begitu besar, keluarga dibantu organisasi sosial mengumpulkan dana untuk Bilqis melalui berbagai macam gerakan. Salah satunya adalah "Koin Peduli Bilqis" yang dalam waktu kurang dari tiga hari telah mencapai Rp 1 miliar lebih. Sumbangan terus masuk sejak media massa terus-terusan memberitakan kisah Bilqis.
Kasus ini tergolong langka karena umumnya terjadi pada orang dewasa, kanker liver yang diawali dengan hepatitis. Penyebabnya mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol secara berlebihan. "Contoh kasus tranplantasi liver yang berhasil dilakukan seperti Pak Dahlan Iskan, Direktur PLN. Tapi, dia operasi di China," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, awalnya ibu Christian, Devi Arianti, melihat kelainan pada anaknya sejak usia tiga bulan. Tidak seperti anak seusianya, perut Christian terlihat besar (membuncit). Walau begitu, sang bocah secara fisik tak terlihat sakit.
Ia tetap bermain seperti layaknya bocah lainnya. "Perutnya seperti bengkak dan waktu saya pegang keras. Tubuhnya juga menguning," kata Devi. Perut Christian semakin membesar seperti ibu yang sedang hamil. Bahkan, diameternya mencapai sekitar 40 cm. Karena kondisinya cukup parah, pembengkakan juga terjadi di hampir seluruh bagian tubuhnya. Kelopak matanya pun ikut membengkak. Tubuhnya juga terlihat kuning dan sebagian tampak mulai menghitam.


